Search This Blog
Tuesday, 10 September 2019
Kekerasan Polisi Di Wamena
This is a sample video of Indonesian police brutality that all Melanesians in West Papua have been facing since the Colonial Republic of Indonesia (CURI) invaded militarily in January 1st, 1962 and the United Nations approved the CURI occupation on May 1st, 1963.
This video happen to be taken and posted to youtube.com. Many are still unpublished, not video-tapped, but strong in the memories of all Melanesians in West Papua.
Tuesday, 19 May 2015
Novelis Muda Papua, Aprilia RA Wayar, Diundang di UWRF
Novelis Muda Papua, Aprilia RA Wayar, Diundang di UWRF
- Aprilia RA Wayar @Ist
Jayapura, MAJALAH SELANGKAH – Novelis muda Papua,
Aprilia RA Wayar diundang mengikuti Ubud Writers and Readers Festival
(UWRF) pada 3-7 Oktober 2012 mendatang di Ubud, Bali. Ia akan ikut UWRF
bersama 15 penulis muda Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia.
Alumna Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta ini mengatakan, dewan
kurator memberi komposisi penulis terpilih terdiri dari lima penyair,
lima cerpenis, empat novelis, dan satu esais. “Kami terdiri dari empat
perempuan dan sebelas pria,”kata Aprilia kepada media ini, Rabu,
(26/9).
Wartawan Tabloid Jubi ini mengatakan, novelnya yang berjudul “Mawar Hitam Tanpa Akar”
yang lolos seleksi itu menceritakan tentang sebuah kisah keluarga muda
kelas menengah Jayapura dengan segala dinamika kehidupan, mulai dari
percintaan sampai kaitan-kaitan dengan persoalan-persoalan politik yang
dialami masyarakat Papua.
Ia mengatakan, pada Vestifal itu, ia dan teman-temannya akan
mempresentasikan karyanya. “Kami akan berbicara pada panel diskusi
bersama sastrawan-sastrawan asing dari sekitar 20 negara. Saya dapat
jadwal presentasi pada, Sabtu 6 Oktober 2012 dan Minggu, 7 Oktober
2012,” kata mantan Aktivis FNPP itu.
Novelis perempuan Papua pertama di era tahun 2000-an menjelaskan,
karyanya bersama teman-temannya akan dialihbahasakan ke dalam bahasa
Inggris dan diterbitkan dalam antologi dwi-bahasa UWRF. Keseluruhan
program Indonesia UWRF didanai bersama oleh Hivos, sebuah lembaga
nirlaba Belanda, dan UWRF sendiri. (Ge/MS)
Labels:
Mahasiswa Papua,
Melanesians,
news,
Novelis,
West Papua Girl
Saturday, 16 May 2015
SUPPORT FROM THE SOLOMONS
SUPPORT FROM THE SOLOMONS
Another great photo from Papatura Island Retreat, a surfing/fishing retreat in the Solomon Islands. Be sure to check it out if you're looking for a unique surf trip in the South Pacific.
Another great photo from Papatura Island Retreat, a surfing/fishing retreat in the Solomon Islands. Be sure to check it out if you're looking for a unique surf trip in the South Pacific.
DUKUNGAN DARI KEPULAUAN SOLOMON
Foto besar lainnya dari Papatura Island Retreat, retret berselancar Memancing di Kepulauan Solomon. Pastikan untuk check it out jika Anda sedang mencari perjalanan surfing unik di Pasifik Selatan.
Foto besar lainnya dari Papatura Island Retreat, retret berselancar Memancing di Kepulauan Solomon. Pastikan untuk check it out jika Anda sedang mencari perjalanan surfing unik di Pasifik Selatan.
Papatura Island Retreat bersama Kvn Rtp
Papatura island retreat crew support #freedomforwestpapua
Tuesday, 12 May 2015
Orang Indonesia lebih Mementingkan Palestina, daripada Papua
Orang Indonesia lebih Mementingkan Palestina, daripada Papua

Malang, Ege News__Sejak
[8/7], Palestina dan Israel bertikai secara terbuka. Kedua negara
saling melepaskan tembakan. Korban pun tidak terhindarkan. Rasa simpati
terhadap Palestina datang dari seluruh penjuru dunia, termasuk
Indonesia. Di Indonesia muncul demo di berbagai daerah untuk mengutuk
Israel. Begitu pula ada sumbangan dana dari berbagai komponen masyarakat
untuk rakyat Palestina. Bahkan Indonesia, melalui menteri pertahanan
Yusgiantoro mengatakan bahwa pihaknya akan segera mengirim pasukan
perdamaian untuk menjaga wilayah Palestina. Tidak ketinggalan kelompok
garis keras seperti FPI pun mengklaim akan mengirimkan pasukannya.
Menyimak berbagai berita tersebut, saya pun berpikir tentang realitas
sesungguhnya yang terjadi di Indonesia, khususnya di Papua. Bahwa di
Papua, hampir setiap hari ada manusia yang mati karena berbagai alasan
kesehatan (HIV/AIDS, malaria, gizi buruk). Banyak rakyat yang mati
karena menjadi korban penembakan kelompok bersenjata. Bahkan tidak
jarang, banyak orang Papua, yang mati di tangan TNI dan Polisi, atas
nama kedaulatan NKRI. Bukan itu saja, banyak anak usia sekolah yang
terlantar dan tidak menerima pendidikan sebagaimana mestinya. Kalau mau
disandingkan, situasi di Papua tidak kalah berbahayanya dengan serangan
Israel ke Palestina. Tetapi Papua dan penderitaannya dilupakan oleh
Indonesia, bahkan oleh sebagian pejabat orang Papua. Rupanya, kalau
orang Papua yang mati, itu biasa, tetapi kalau orang Palestina yang mati
karena diterjang oleh peluru Israel itu baru luar biasa.
Kalau rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia begitu peduli pada
Palestina, mengapa hal yang sama tidak untuk orang Papua? Mengapa ada
diskriminasi yang begitu mendalam antara rakyat Indonesia ras melayu
dengan orang Papua yang adalah ras melanesia? Mungkin bagi sebagian
orang, masalah Papua itu biasa-biasa saja. Orang hanya berpikir, bahwa
masalah Papua adalah masalah uang. Kalau orang Papua dikasih uang, itu
sudah cukup! Sesungguhnya, Papua memiliki permasalahan yang kompleks.
Papua memiliki sejarah. Papua memiliki kekayaan sumber daya alam dan
sumber daya manusia yang melimpah. Tetapi, persis di atas kekayaan
itulah, orang Papua memiliki sejumlah masalah yang pelik, ibarat benang
kusut yang sulit terurai.
Bicara tentang masalah Palestina dan Israel, berarti bicara tentang hak
asasi manusia. Kedua negara saling mengklaim batas-batas wilayah dan
juga ketenangan hidup. Ketika salah satu dari keduanya mencari masalah,
maka perang pun pecah. Seandainya, kelompok garis keras Hamas tidak
membunuh ketiga remaja Israel secara keji, dan tidak menembakkan
roket-roket mematikan ke wilayah Israel, tentu perang tidak akan
terjadi. Mungkin ada motivasi lain yang menyebabkan kedua negara saling
berperang. Saya tidak mau masuk ke ranah itu, karena sudah terlalu
banyak pihak yang memberi perhatian.
Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa bahwa nuansa keindonesiaan
di Papua kian memudar. Situasi ini terjadi karena sikap malas tahu
Indonesia terhadap jerit tangis dan penderitaan orang Papua. Indonesia
malas tahu dengan orang Papua! Mungkin itu istilah yang tepat untuk
mendeskripsikan sikap Indonesia terhadap orang Papua. Bahkan para
pejabat Indonesia, yang berasal dari Papua pun ikut-ikutan malas tahu
terhadap sesamanya orang Papua. Contoh ada di depan mata, betapa
sulitnya bangun pasar untuk mama-mama Papua di kota Jayapura. Bukan itu
saja, para pejabat orang Papua pun kerap mencuri uang rakyatnya. Korupsi
merajalela di Papua. Ini kenyataan sosial yang sedang berlangsung di
Papua.
Papua memang punya segalanya: emas, hutan, minyak bumi, cenderawasih dan
sebagainya, tetapi Papua kurang cantik dan kurang seksi di mata
Indonesia. Papua dilihat sebagai pulau orang hitam, keriting, yang
berbusana daun dan kulit kayu. Papua hanya menjadi dapur bagi Indonesia.
Tetapi anehnya, ketika orang Papua hendak meninggalkan Indonesia, mau
merdeka dan berdaulat, Indonesia justru tidak meresponnya. Indonesia
takut dan mengirim banyak tentara dan polisi untuk bunuh orang Papua
yang minta merdeka. Sesungguhnya, Indonesia terlalu pengecut! Pada titik
ini, saya malu menjadi orang Indonesia. Mungkin banyak orang pun malu
menjadi orang Indonesia, yang identik dengan teroris, koruptor, plagiat
dan berbagai stigma jelek lainnya.
Ibarat pepatah tua: “gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di
seberang laut tampak.” Itulah Indonesia. Masalah di Papua belum selesai,
setiap hari orang Papua mati, tetapi tidak dibiarkan. Sedangkan saat
Palestina digempur Israel karena ulahnya, Indonesia langsung bereaksi.
Bagi Indonesia Palestina lebih berharga daripada Papua. Sentimen apa
yang menyebabkan Indonesia menjadi buta dan tuli terhadap jerit tangis
orang Papua? Apakah kemanusiaan orang Palestina lebih utama dibandingkan
orang Papua?
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Indonesia harus tutup mata
terhadap persoalan Palestina-Israel, saya hanya menyesalkan sikap
Indonesia yang kurang konsisten memperhatikan rakyatnya sendiri, tetapi
mau sibuk dengan negara lain. Indonesia perlu bangun fondasi
keindonesiaannya agar mapan, sebelum berkoar-koar mengurusi negara lain.
Indonesia perlu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya terlebih dahulu,
sebelum mengirimkan jutaan dolar ke Palestina. Sikap solider Indonesia
yang berlebihan kurang tepat. Indonesia perlu menata dirinya terlebih
dahulu sebelum sibuk dengan negara lain.
Papua adalah salah satu wilayah yang harus menjadi pusat perhatian
Indonesia. Orang Papua terlalu banyak menanggung penderitaan karena
sikap malas tahu Indonesia. Kini saatnya Indonesia mengarahkan
pandangannya ke ufuk timur dan mulai membangun tanah dan orang Papua.
Indonesia perlu bangun Papua dengan segenap hatinya, bukan karena
terpaksa atau ada motivasi lainnya. Dibutuhkan kejujuran untuk membangun
tanah Papua, bukan sikap pura-pura. Jika Indonesia masih terus
berpura-pura dengan orang Papua, sebaiknya biarkan orang Papua
menentukan nasibnya sendiri di negerinya. Merdeka!
Source: http://indonesiahariinidalamkata.com/indonesia/berita/banyak-orang-indonesia-mementingkan-palestina-daripada-papua/
Source: http://indonesiahariinidalamkata.com/indonesia/berita/banyak-orang-indonesia-mementingkan-palestina-daripada-papua/
Nusa Tenggara Timur (NTT) Tuan Rumah Festival Melanesia
NTT Tuan Rumah Festival Melanesia
Festival Melanesia |
KUPANG - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ditetapkan sebagai tuan
rumah penyelenggaraan festival 11 negara ras Melanesia pada minggu
terakhir Oktober 2015. Penandatanganan deklarasi Melanesia ini akan
berlangsung di Papua pada 1 Mei 2015.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Sinun Petrus Manuk, Selasa (28/4) petang, menjelaskan bahwa penandatanganan deklarasi Melanesia di Papua itu akan dihadiri Gubernur NTT, bersama Gubernur Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.
Menurutnya, negara-negara yang tergabung dalam ras Melanesia berada di Pasifik Selatan. Sebanyak 11 negara yang masuk dalam ras Melanesia, yakni Fiji, Papua Nugini, Timor Leste, Kepulauan Salomon, dan Vanuatu. Sementara itu, Indonesia baru bergabung menjadi anggota pada 2014 yang digelar di Papua.
"Kelompok Melanesia itu adalah kelompok masyarakat yang berkulit hitam dan berambut keriting. Di Indonesia, hanya lima provinsi saja yang menjadi kelompok Melanesia, yakni NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat," katanya.
Ia menjelaskan, terkait budaya Melanesia, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan... SUMBER
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Sinun Petrus Manuk, Selasa (28/4) petang, menjelaskan bahwa penandatanganan deklarasi Melanesia di Papua itu akan dihadiri Gubernur NTT, bersama Gubernur Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.
Menurutnya, negara-negara yang tergabung dalam ras Melanesia berada di Pasifik Selatan. Sebanyak 11 negara yang masuk dalam ras Melanesia, yakni Fiji, Papua Nugini, Timor Leste, Kepulauan Salomon, dan Vanuatu. Sementara itu, Indonesia baru bergabung menjadi anggota pada 2014 yang digelar di Papua.
"Kelompok Melanesia itu adalah kelompok masyarakat yang berkulit hitam dan berambut keriting. Di Indonesia, hanya lima provinsi saja yang menjadi kelompok Melanesia, yakni NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat," katanya.
Ia menjelaskan, terkait budaya Melanesia, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan... SUMBER
30 Tapol Papua Akan Dapat Amnesty
30 Tapol Papua Akan Dapat Amnesty
JAYAPURA — Sedikitnya, 30 Tahanan Politik (Tapol) Papua akan mendapat amnesty (pengampunan) dari Presiden RI H. Ir. Joko Widodo (Jokowi) secara bertahap.
Hal itu diawali dengan pemberian amnesty yang dilakukan dalam rangkaian kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Papua, yang mengagendakan bertemu sekaligus memberikan Amnesty atau pengampunan bagi 8 Tahanan Politik (Tapol) Papua yang selama ini menghuni Lapas Abepura, Sabtu (9/5) sekitar pukul 15.00 WIT.
Pembela HAM Papua, Matius Murib kepada wartawan di Abepura, Jumat (8/5) mengatakan, 8 Tapol Papua
tersebut, masing-masing Jafrain Murib, Numbungga Telenggen, Apotnagolik
Lokobal, Jefri Wanimbo, Jogor Telengen, Kimanius Wenda dan Linus
Hiluka.
Menurut Matius Murib, Tapol Papua
hingga bulan Februari 2015 berjumlah 38 Tapol. Presiden Jokowi pada
tahap awal ini memberikan pengampunan kepada 8 Tapol, sedangkan sisa 30
Tapol secara bertahap bakal dibebaskan puncaknya pada saat HUT Proklamasi RI tahun 2015 mendatang.
Ia menjelaskan, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Provinsi Papua,
Lenis Kogoya mewakili Presiden Jokowi pada Jumat (8/5) telah menemui
sekaligus menyampaikan tawaran pengampunan kepada ke-8 Tapol tersebut.
Hanya saja, ke-8 Tapol mengakui masalah politik Papua masa lalu telah melibatkan pihak internasional, seperti PBB, Amerika Serikat, Belanda dan Indonesia.
Makanya sangat fair bila persoalan politik diharapkan melibatkan
pihak internasional. Ke-8 Tapol ini juga menginginkan setelah mereka
dibebaskan Papua
langsung merdeka. “Tapi setelah bebas masih dijajah oleh Indonesia dan
masih tak aman, bahkan ditangkap lagi mereka justru menolak Amnesty
Presiden,” tandas Matius Murib.
Dikatakan Matius Murib, Amnesty adalah sebuah tindakan hukum yang
mengembalikan status tak bersalah kepada orang yang sudah dinyatakan
bersalah secara hukum sebelumnya. Amnesty diberikan oleh badan hukum
tinggi negara semisal badan eksekutif dan legislatif atau yudikatif.
Di Indonesia Amnesty merupakan salah-satu hak Presiden di bidang
yudikatif sebagai akibat penerapan sistem pembangunan kekuasaan.
(Mdc/aj/l03
Source: Minggu, 10 Mei 2015 02:30, BinPa
30 Tapol Papua Akan Dapat Amnesty was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Labels:
dukungan internasional,
hukum kolonial,
napol,
Roundups,
tapol,
west papua
Jangan Mudah Menstigma OPM Bagi Orang Papua
Jangan Mudah Menstigma OPM Bagi Orang Papua
JAYAPURA – Panglima TNI Jenderal Moeldoko meminta kepada aparat
TNI–Polri untuk harus menjadi perekat bangsa, dan tidak mudah memberikan
stigma Organisasi Papua Merdeka (OPM) bagi orang Papua, tetapi bisa mempersatukann seluruh rakyat Indonesia.
“Jangan mudah memberikan stigma OPM kepada orang Papua, karena stigma OPM
membuat sakit hati, malu atau merasa terancam bagi kehidupan mereka,”
kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko didampingi Kapolri Jenderal Pol.
Badrodin Haiti saat memberikan pengarahan kepada prajurit TNI-Polri
se-Garnisun Jayapura di Aula Tonny A Rompi, Makodam XVII/Cenderawasih,
Jumat (8/5).
Panglima meminta agar seluruh prajurit TNI-Polri menjaga perasaan rakyat Indonesia di Papua.
“Jangan dikit-dikit OPM, itu tidak baik!. Jika diberikan terus stigma OPM, dia merasa tidak nyaman, hidupya terancam dan lama-lama jengkel lalu mengalami resistesi,” katanya.
Ia mengemukakan, sekarang ini indonesia berada dalam era reformasi
sehingga ketika ada persoalan kecil bisa menjadi persoalan besar lalu
menimbulkan konflik yang akan berkepanjangan.
“Persoalan nasional bisa jadi persoalan internasional. Contohnya,
dulu pernah ada kasus besar karena kebodohan sampai berdampak pada
politik hubungan Internasional. Mungkin iseng. Namun ketika dilakukan
pemeriksaan, yang mungkin hanya gara-gara HP (handphone) karena terjatuh
lalu dampak sangat besar. Itu tidak boleh terjadi,” tekannya.
Selain itu, Panglima juga meminta kepada prajurit TNI-Polri sebagai
perekat bagsa, harus menjadi tulang punggung dalam pembangunan sosial
masyarakat.
“Saya tidak bisa bayangkan kalau kita menjadi tulang punggung masalah
sosial. Jadi posisi TNI-Polri dalam struktur harus kuat,” ujarnya.
Panglima TNI menambahkan, Banyak orang yang menginginkan adanya
retakan dalam tubuh TNI-Polri agar Indonesia melemah. “Kita tidak mau
hal itu terjadi, sehingga upaya yang kita lakukan harus memperkuat TNI
dan Polri, kita harus menjaga hubungan dengan baik agar negara ini tetap
berdiri kokoh,” tegasnya. (Loy/aj/l03)
Source: Minggu, 10 Mei 2015 02:28, Jangan Mudah Menstigma OPM Bagi Orang Papua
Jangan Mudah Menstigma OPM Bagi Orang Papua was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Labels:
gelagat penjajah,
opm,
stigma OPM,
Terorisme,
TPN PB
Danrem 174/ATW: Jangan Coba Macam-Macam Saat Kunker Presiden
Danrem 174/ATW: Jangan Coba Macam-Macam Saat Kunker Presiden
MERAUKE – Komandan Korem 174/Anim Ti Waninggap, Brigjen TNI
Supartodi memperingatkan (warning) kepada kelompok-kelompok yang
berseberangan dengan NKRI agar tidak mengganggu Kamtibmas pada saat
kunjungan kerja Presiden Joko Widodo di Kabupaten Merauke, Sabtu
(9/5/15).
Ditegaskan, apabila ada kelompok tertentu, terutama yang
berseberangan dengan NKRI melakukan gerakan yang mengganggu, maka
pihaknya akan menindak secara tegas.
“Jangan ada yang coba macam-macam, yang mungkin melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan,” tegas Danrem, Jumat (8/5/15).
Ditegaskan kembali, kelompok-kelompok itu ditegur sebelum Presiden berkunjung di Kabupaten Merauke, agar mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kita perlu sampaikan ketegasan-ketegasan kepada siapa saja yang
mungkin akan melakukan hal yang tidak benar, dan sebagainya. Kita tegur
dari pada kita tindak sesuai dengan aturan yang ditetapkan,” tegasnya
lagi.
Terkait pengamanan, kata Danrem, pengamanan akan dilakukan mulai dari
Bandara Mopah, hotel, sepanjang jalan yang dilalui Presiden dan lokasi
panen raya di Wapeko Distrik Kurik.
“Saya sendiri di VIP. Pengamanan sesuai SOP yang standar. Sterilnya mulai dari H minus dua. Pengamanan ring satu dari Paspampres dibantu dari wilayah, dari TNI/Polri. Pengamanan no problem, mulai dari pengamanan awal sampai kembalinya,”
ujarnya.
Kata Danrem, kurang lebih 1.432 personil TNI yang disiagakan. Para
prajurit diarahkan untuk melakukan pengamanan mulai dari Bandara
Merauke, hotel Swiss-bel hingga Wapeko, Kurik.
“Untuk pasukan cadangan itu ada 4 Satuan Setingkat Kompi (SSK), setiap saat bisa digerakkan, kapan saja. Kendaraan gak ada masalah, karena kemarin kendaraan kepresidenan sudah datang,”
tandasnya. (moe/aj)
Source: Minggu, 10 Mei 2015 02:27, Danrem 174/ATW: Jangan Coba Macam-Macam Saat Kunker PresidenDanrem 174/ATW: Jangan Coba Macam-Macam Saat Kunker Presiden was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Labels:
ancaman,
gelagat penjajah,
teror tni,
Terror Negara
Apotnalogilik Lakobal : Yang Kami Tahu, Kami akan Diberikan Amnesti
Apotnalogilik Lakobal : Yang Kami Tahu, Kami akan Diberikan Amnesti
Jayapura, Jubi – Usai menerima grasi dari Presiden Indonesia,
Joko Widodo (Jokowi), Apotnalogilik Lakobal, mengakui dirinya menyesal
karena mengetahui menerima grasi setelah tiba di Jayapura.
“Saya menyesal. Yang kami tahu, kami akan diberikan amnesti. Sampai
di Abepura ini baru kami tahu kalau kami dapat grasi. Tidak ada yang
kasih tahu kami,” kata Apotnalogilik Lakobal, salah satu dari lima
tahanan politik yang diberikan grasi oleh Presiden Joko Widodo, usai
upacara pemberian grasi di LP Abepura, Sabtu (9/5/2015).
Presiden Indonesia, Jokowi dalam wawancara dengan Jubi usai upacara
pemberian grasi, mengakui bahwa pemberian grasi adalah inisiatifnya.
“Pemberian grasi adalah inisiatif saya. Kalau mereka (tahanan politik Papua-red)
ingin grasi, dalam waktu dua minggu akan kami berikan. Tapi kalau
amnesti, itu perlu persetujuan DPR. Saya tidak tahu, mereka (DPR RI)
setuju atau tidak,” kata Presiden Jokowi.
Apa yang disampaikan oleh Presiden Indonesia ini dibenarkan oleh Linus Hiel Hiluka, tapol lainnya yang mendapat grasi dari Presiden Jokowi. Linus mengatakan dirinya bersama empat tapol lainnya tidak pernah minta maupun memohon grasi kepada pemerintah.
“Kami kami tidak pernah minta. Grasi itu murni kehendak dan inisiatif
presiden Jokowi. Presiden bilang pemberian grasi ini adalah inisiatif
dari saya (presiden), bukan permohonan kami. Presiden juga minta maaf
atas apa yang dilakukan aparat terhadap kami selama 12 tahun terakhir,”
kata Hiluka saat jumpa pers dengan wartawan di kantor ALDP, Padang
Bulan, Abepura, Minggu (10/5/2015).
Grasi merupakan hak konstitusional yang diberikan kepada presiden
untuk memberikan pengampunan yang berupa perubahan, peringanan,
pengurangan atau penghapusan pelaksanaan putusan kepada terpidana.
Pemberian grasi adalah hak prerogatif presiden untuk memberikan ampunan.
Pemberian grasi ini diatur dalam UU No. 22 Tentang Grasi. Pemberian
grasi harus diajukan secara tertulis seperti tercantum dalam Pasal 8
ayat 1 UU tentang Grasi ini yang menyebutkan permohonan grasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 diajukan secara tertulis
oleh terpidana, kuasa hukumnya, atau keluarganya, kepada Presiden.
Selanjutnya, ayat 4 menyatakan dalam hal permohonan grasi dan salinannya
diajukan melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3), Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan
grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada
pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7
(tujuh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan
salinannya. (Victor Mambor)
Source: TabloidJubi.com Diposkan oleh : Victor Mambor on May 11, 2015 at 02:46:44 WP [Editor : -]
Apotnalogilik Lakobal : Yang Kami Tahu, Kami akan Diberikan Amnesti was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Labels:
Amnesty,
gelagat penjajah,
hukum kolonial,
Terorisme
Menyikapi Situasi Papua, AMP Dirikan Posko PAPUA Zona Darurat
Yogyakarta,11/05/2015- Melihat perkembangan politik West Papua di tingkatan Nasional West Papua, Indonesia dan Internasional, dan dengan melihat kondisi riil West Papua yang hingga saat ini menunjukan situasi yang kurang kondusif, maka Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] Komite Kota Yogyakarta pada hari ini, Senn, 11 Mei 2015, menggelar konfrensi pers di Asrama Mahasiswa Papua “Kamasan I” Yogyakarta, serta juga meluncurkan pendirian posko “PAPUA ZONA DARURAT”.
Dalam konfrensi pers yang digelar siang
ini, AMP KK Yogyakarta dengan tegas menyatakan mengutuk tindakan brutal
aparat militer Indonesia terhadap ratusan aktivis pro Demokrasi yang
terjadi pada peringatan 52 Tahun hari Anegsasi (1 Mei,2015-red), dalam
pernyataannya, Aby Douw selaku ketua AMP KK Yogyakarta menyatakan bahwa,
“tindakan pembubaran aksi damai dan penangkapan ratusan aktivis pada peringatan hari anegsasi beberapa hari lalua, jelas-jelas menunjukan bahwa Indonesia adalah negara yang anti terhadap demokrasi, dan dengan melihat kondisi ini, sangat pantas kita nyatakan bahwa saat ini Papua dalam keadaan Zona Darurat. Tidak hanya itu, pembungkaman ruang demokrasi yang terjadi sejak Papua di anegsasi pada 1 mei 1963 dan penutupan akses jurnalis asing untuk meliput di Papua, ini membuktikan dengan jelas bahwa Indonesia sangat tidak pantas dinyatakan sebagai negara penganut sistem demokrasi”.
tegas Aby.
Selain itu, Roy Karoba selaku Biro Politik Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] juga membenarkan apa yang disampaikan oleh Aby Douw, dalam pernyataannya, Roy menyatakan bahwa
“melihat kondisi Papua saat ini, sangat tepat ketika kita nyatakan bahwa PAPUA Zona Darurat, dan juga dengan melihat perkembangan politik diplomasi West Papua yang dilakukan oleh ULMWP di MSG, yang dimana pada tanggal 21 mei mendatang, status West Papua untuk menjadi anggota MSG diputuskan, maka sangat harus bagi kami rakyat West Papua, melakukan suatau upaya dan gebrakan baru guna ikut mendorong proses diplomasi yang dilakukan oleh para diplomat di luar negeri, demi mempermudah proses masuknya West Papua menjadi anggota MSG. Untuk itu, kami sendiri [AMP] telah berfikir untuk mendirikan Posko PAPUA ZONA DARURAT, di wilayah Jawa dan Bali, yang dimana Posko inilah yang nantinya akan difokuskan sebagai tempat informasi dan pendataan bagi seluruh mahasiswa Papua yang berada di wilayah Jawa dan Bali, serta juga kami telah mengagendakan beberapa rangkaian kegiatan, untuk menyikapi pendaftaran West Papua ke MSG dan juga untuk menyikapi situasi Papua saat ini”,
tambahnya.
Dari keterangannya, Aliansi Mahasiswa Papua
[AMP] sendiri telah mendirikan Posko dengan nama dan tujuan yang sama
di tiga wilayah, yaitu Yogyakarta sendiri sebagai Posko central, dan
Surabaya untuk wilayah Jawa Timur dan Bali, serta Bogor, untuk wilayah
Jawa Barat.
Menyikapi Situasi Papua, AMP Dirikan Posko PAPUA Zona Darurat was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Labels:
Activis,
amp,
Pernyataan,
politik Papua Merdeka,
Rilis Pers
Soal Papua, Perlu Dialog Nasional Dalam Kerangka NKRI
Soal Papua, Perlu Dialog Nasional Dalam Kerangka NKRI
Jayapura – Untuk mengatasi berbagai persoalan Papua
yang hingga kini masih belum terurai dengan baik, yang berbuntut belum
maksimalnya proses pembangunan yang menyentuh masyarakat secara
langsung, dialog nasional dalam kerangka NKRI dianggap menjadi solusi
yang paling tepat. Karena, dengan dialog nasional, aspirasi atau
keinginan rakyat Papua
akan diketahui secara pasti oleh pemerintah. Hal itu terungkap dalam
dialog publik anggota DPD RI Pdt Charles Simare-mare dengan masyarakat Papua di Hotel Talent Jayapura, Sabtu 9 Mei.
‘’Rakyat Papua menginginkan dialog dengan pemerintah pusat, tentu dalam bingkai NKRI, ini agar aspirasi, kemauan orang Papua
yang selama ini menjadi beban pergumulan mereka, betul-betul bisa
didengar langsung, dan bukan lagi meraba-raba, menduga-duga atau
katanya-katanya, tapi berdasarkan kenyataan riil rakyat Papua akar rumput,’’ujar Simare-mare.
Dengan dialog, lanjutnya, akan terbangun komunikasi antara masyarakat Papua
dengan pemerintah, sehingga pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan
akan benar-benar tepat sasaran sesuai keinginan dan harapan masyarakat.
‘’Dialog akan membuka suara rakyat Papua
yang selama ini tersumbat, ini sangat penting, agar nantinya pemerintah
dalam mengambil kebijakan, bisa menjawab secara langsung persoalan Papua,’’tukas Simare-mare.
Sambung Simare-mare, atas aspirasi dan keinginan kuat masyarakat Papua untuk dialog nasional, dirinya sebagai perwakilan DPD RI dari Papua, akan menyampaikannya kepada pemerintah pusat. ‘’Sebagai wakil Papua di DPD RI, apa yang menjadi keinginan masyarakat Papua selama itu masih dalam bingkai NKRI, akan kami perjuangkan ke pemerintah pusat, agar segala persoalan Papua bisa benar-benar terurai,’’imbuhnya.
Pengamat politik Papua yang juga akademisi Universitas Cenderawasih Marinus Yaung mengatakan, selama ini suara rakyat Papua
tersumbat, sehingga tidak pernah didengar pemerintah pusat. ‘’Jadi
dialog nasional dalam kerangka NKRI menjadi solusi yang tepat, sehingga
nantinya kebijakan pemerintah betul-betul menyentuh rakyat, dan menjawab
persoalan yang ada,’’ujar Marinus yang juga menjadi pembicara dalam
dialog publik dengan DPD RI itu.
Dengan adanya komunikasi yang terbangun melalui dialog, akanmenolong pemerintah pusat dalam menjawab persoalan Papua,
sebab, tidak akan ada lagi kebuntuan akibat tiadanya penyerapan
aspirasi secara langsung. ‘’Selama ini kan aspirasi selalu datang dari
birokrasi, sehingga haislnya tidak pernah maksimal, karena rakyat bilang
A, birokrasi sampaikan B lalu pemerintah jawab C, sehingga kebijakan
yang dikeluarkan selalu resistensi, lalu buntutnya ya demo dan demo
lagi,’’paparnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Anggota DPD RI Pendeta Charles Simare-mare yang langsung melakukan dialog publik dengan rakyat Papua
guna menyerap aspirasi. Sebab, hal inilah yang diinginkan rakyat.
‘’Komunikasi adalah solusi yang paling baik dalam menjawab berbagai
persoalan, langkah DPD RI perwakilan Papua membangun komunikasi sangat di apresiasi rakyat Papua, karena tidak lagi melalui birokasi yang panjang,’’pungkasnya.
Hal senada juga ditandaskan Professor Tobing yang juga akademisi
Universitas Cenderawasih, bahwa membangun komunikasi melalui dialog,
menjadi kunci utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Papua. “Dialog membuka mata hati rakyat Papua dan pemerintah, sehingga akan terbangun sinergitas, Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tepat sasaran, rakyat Papua merasakannya secara nyata,’’singkatnya.
Presiden Beri Grasi Napol Papua, DPD RI Apresiasi
Presiden RI Joko Widodo memberikan grasi/pengampunan kepada 5 Narapidan Politi Papua, Sabtu 9 Mei di Lembaga Pemasarakatan Abepura. Anggota DPD RI Perwakilan Papua Pendeta Charles Simare-mare mengapresiasi dan menyambut baik kebijakan Presiden tersebut.
Presiden RI Joko Widodo memberikan grasi/pengampunan kepada 5 Narapidan Politi Papua, Sabtu 9 Mei di Lembaga Pemasarakatan Abepura. Anggota DPD RI Perwakilan Papua Pendeta Charles Simare-mare mengapresiasi dan menyambut baik kebijakan Presiden tersebut.
‘’Langkah Presiden kita sangat positif dan perlu disambut baik,
karena kebijakan pemberian grasi itu adalah salah satu langkah untuk
menyelesaikan berbagai persoalan di Papua, dan ini juga potret nyata dari Presiden ingin membangun Papua dengan tulus, serta menunjukan iklim demokrasi yang baik, ’’ujar Simare-mare Minggu 10 Mei.
Lanjut Simare-mare, Kebijakan Presiden memberikan grasi juga menunjukan, bahwa Presiden bukan hanya semata-mata berkunjung ke Papua, tapi juga mengambil langkah nyata dan riil yang benar-benar dirasakan rakyat Papua. “Bukan soal frekuensi yang tinggi berkunjung ke Papua, tapi bagaimana memecahkan kasus atau kesulitan yang dirasakan rakyat Papua, dan Presiden telah menujukan komitmen yang tinggi membangun Papua dengan paradigma pendekatan yang baru,”paparnya.
Persoalan HAM, sambung Simare-mare, menjadi salah satu masalah yang harus dituntaskan pemerintah di Papua. Karena inilah belenggu yang selama ini menciptakan sulitnya membangun saling percaya antara pemerintah dan rakyat Papua.
“Mereka para Napol yang ditahan karena kasus makar/politik, sebenarnya
adalah kesalahan-kesalahan pemerintahan masa lalu, yang tidak melihat
persoalan dengan pendekatan persuasif dan kemanusiaan, sehingga
melahirkan rasa tidak saling percaya, namun Presiden Jokowi telah
mengubahnya dan membuktikan ingin membangun Papua dengan pendekatan kemanusiaan dan kesejahteraan,’’paparnya.
Sebenarnya, tambah dia, persoalan Papua
bukan semata politik tapi adanya kesenjangan kesejahateraan. “Ibarat
anak yang sedang marah, kalau bapaknya tidak membelikan sepatu bagus
maka akan keluar dari rumah, nah sebagai orang tua masa kita langsung
marah, mengikat, penjarakan mereka, tapi kan kita harus panggil
dekati,’’jelasnya.
DPD RI juga berharap, langkah Presiden juga jangan hanya memberikan
grasi kepada 5 Napol itu saja, tapi juga dengan Tapo/Napol lain yang
hingga kini masih di penjara serta mereka yang masih bergerilya di
hutan. ‘’Kami berharap ini baru hanya langkah awal dari Presiden,
kedepan yang lain bahkan yang juuga masih berjuang bisa dirangkul dan
diberi pengampunan, agar mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat
untuk bersama-sama membangun Papua ke arah yang lebih sejahtera, demia kejayaaan Indonesia,’’harapnya. (jir/don/l03)
Source: Senin, 11 Mei 2015 08:17, Soal Papua, Perlu Dialog Nasional Dalam Kerangka NKRI
Soal Papua, Perlu Dialog Nasional Dalam Kerangka NKRI was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Labels:
dialogue,
gelagat penjajah,
NKRI Bangkrut,
politik nkri
DPR Papua Optimis Smelter Dibangun di Papua
DPR Papua Optimis Smelter Dibangun di Papua
Surabaya–Takpercaya sebelum melihat langsung faktanya. Itulah yang mendorong sejumlah anggota DPR Papua
sehingga mendatangi langsung PT. Smelting Copper Smelter And Refhneri,
Desa Roomo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur pada
hari Jumat (8/5). Kedatangan rombongan DPR Papua
yang dikomandoi Ketua Komisi D Boy Markus Dawir ini untuk melihat dari
dekat sekaligus mendapatkan informasi lebih utuh tentang keberadaan PT
Smelter yang rencananya juga akan dibangun di Timika,Papua.
Dalam kunjungan tersebut, selain bertatap muka dengan jajaran
Manajemen PT. Smelting Copper Smelter And Refhneri, diantaranya,
Technical General Manajer, Tetsuro Sakai, Technical Maneger, Bouman T.
Situmorang, dan Mr. Katsuyoshi Isaji, tapi juga melihat proses
percetakan tembaga, yang siap dijual ke pasaran.
Dari data pertemuan tersebut, diketahui pemegang saham terbesar PT.
Smelting Copper Smelter And Refhneri, adalah Mitsubishi dari Jepang
yaitu sebesar 75 persen, sedangkan kedua PT. Freeport Indonesia sebesar
25 persen, namun dalam suplai bahan baku untuk pemurnian tembaga PT.
Freeport Indonesia sebagai penyumbang terbesar tembaga sebesar 85
persen.
Dalam produksi pertahunnya, PT. Smelting Copper Smelter And Refhneri,
menghasilkan tembaga yang siap dipasarkan sebanyak 300.000 pertahun,
namun diluar dari tembaga tersebut ada sisa hasil produksi yang dijual
lagi seperti asam sulfat untuk pembuatan pupuk. Kemudian sisa konsentrat
hasil produksi tembaga berupa lumpur Anoda (produk samping dari sisa
pemurnian tembaga) mengandung emas dan perak sebanyak 57 persen yang
dijual ke Korea dan Jepang untuk diolah lebih lanjut lagi.
Terkait dengan itu, pihak PT. Smelting Copper Smelter And Refhneri,
terkesan tertutup dalam memberikan data mengenai berapa rupiah yang
dihasilkan dari pemurnian tembaga dan sisa produksi konsentrat lainnya.
Namun, ditafsirkan setiap tahunnya Papua kehilangan million (trilyunan) dolar hasil dari kekayaan alam Papua. Untuk itu, jika ingin menyelamatkan kebocoran ini, maka satu-satunya PT Smelter harus dibangun di Papua.
Ketua Komisi IV DPRP, Boy Markus Dawir, menegaskan, Komisi IV bersama
6 fraksi di DPRP tetap komitmen untuk sinergis dengan program Gubernur Papua, Lukas Enembe. Sehingga jika ada pihak-pihak yang berkomentar mengenai penolakan dan pesimis membangun Smalter di Papua,dipersilakan saja.
Sebelumnya Ketua Fraksi Hanura Yan Mandenas kepada wartawan mengatakan, untuk saat ini belum waktunya PT Smelter dibangun di Papua.
Jika itu dipaksakan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan konflik yang
berkepanjangan bagi masyarakat. Yang terpenting saat ini katanya,
membangunan Sumber Daya manusia dan lingkungan dan itu butuh proses
waktu yang panjang. Ia melihat pemerintah saat ini hanya cenderung
mendorong pembangunan infrastruktur dengan mengabaikan pembangunan
manusianya, padahal yang terpenting adalah membangunan manusia lebuh
dulu, sehingga ketika investasi besar masuk di Papua, masyarakat sudah siap.
Menurut Boy Dawir, Gubernur Papua, Lukas Enembe berkeinginan membangun Smelter di Papua,
tentunya didukung penuh, sebagai wujudnya berkunjung ke PT. Smelting
Copper Smelter And Refhneri, yang selama ini disampaikan di publik bahwa
PT.Freeport ada mendorong hasil tambangnya ke Gresik untuk diolah dan
sebagainnya dibawah ke Jepang dan China. Sedangkan pabrik pengolahan di
China DPRP bersama Gubernur Papua dan tokoh adat di Mimika. Smelter di China ini ditangani oleh Perusahan bernama Felix Group.
Dari hasil pertemuan dan manjemen PT. Smelting Gresik maupun tinjauan
langsung ke pabrik, harus jujur diakui bahwa masih banyak terjadi
kebocoran dalam proses dan kebocoran dalam hasil pendapatan dari PT.
Freeport Indonesia terhadap Pemerintah Pusat maupun Provinsi Papua atas hasil produksi hasil tambang yang diambil dari perut Bumi Papua.
Misalnya berapa kubikasi/tonnisasi hasil yang dikeruk dari Mimika,
seperti mas berapa persen, tembaga persen, peraknya berapa persen, dan
konsentrat lainnya yang tidak dijelaskan secara terperinci, dari hasil
pengolahan ini.
“Kami menghormati kebijakan pemerintah pusat, namun lebih baik Smelter ini harus ada di Tanah Papua, supaya memudahkan kita mengotrolnya untuk mengurangi kebocoran dan laporan siluman yang ada. Kalau dibangun di Papua, otomatis kontrol dari Pemerintah Provinsi Papua akan lebih ketat terhadap pengolahan tambang yang ada di Timika,” tandasnya.
Soal pabrik pendukung Smelter, Pemerintah Provinsi Papua
dengan keterbatasan dana sehingga tidak membangun, karena pertama yang
dibangun harus kapasitas listrik yang cukup, dan untuk mengantisipasi
semua itu, Komisi IV DPP sudah membentuk kelompok-kelompok kerja
(Panja), yakni, Panja Listrik, Panja Pertambangan, Panja Emisi Karbon
dan lainnya. Maka untuk masalah listrik Panja ini bekerja untuk
menyiapkan listrik guna mendukung pabrik-pabrik pendukung Smalter yang
akan dibangun.
PT Freeport sendiri, semasa Gubernur Barnabas Suebu, Freeport
berkomitmen berkontribusi untuk pembangunan listrik di Timika dengan
anggaran Rp1 Triliun. Tapi sejauh ini DPRP belum mengecek dari anggaran
Rp1 T tersebut, sudah dipakai berapa selama Barnabas Suebu menjabat,
karena sejak Lukas Enembe menjabat Gubernur Papua, Freeport belum memberikan laporan kepada Pemerintah Provinsi Papua.
Dengan demikian sekembali dari Gresik, DPRP memanggil Freeport untuk
membicarakan dana Rp1 T untuk pembangunan listrik dimaksud.
Berikutnya, Pemerintah Provinsi Papua
mendapatkan alokasi gas dari LNG Tangguh Bintuni, dimana nantinya
digunakan untuk juga sebagai pembangkit listrik, dalam rangka
pembangunan pabrik-pabrik maupun Smelter. Juga untuk mendukung PON 2020
di 5 Klaster, yaitu Jayapura, Biak, Wamena, Timika dan Merauke.
“Pemerintah Provinsi Papua
juga dapat tawaran dari Komisi VII DPR RI untuk mendorong anggaran
sekitar Rp10 T, tetapi masih menggunakan batu bara, Kami sampaikan ke
gubernur bahwa Kami tolak, karena kalau kita gunakan batu baru, maka
kita akan bergantung pada Pulau Jawa dan Sumatera dalam ekspor bahan
baku ini. Sebab bila bahan baku ini tidak ada atau harganya naik, dan
tidak sesuai dengan rencana awal, maka kita akan alami stagnisasi
listrik di Papua, tetapi kalau Papua sudah mempunyai gas untuk pembangkit listrik, tentunya sampai kapapun listrik tetap tersedia di Papua dalam menunjang PON 2020 maupun menunjang pabrik-pabrik yang akan dibangun di Papua,” tegasnya.
Khusus untuk Smelter dan pabrik pendukung dan lain-lain, karena sisa
produksi Smelter lainnya digunakan untuk pembuatan pupuk, semen, asam
pospat, dan lainnya, itu sudah teratasi dalam sebuah kebijakan saat
perjalanan ke China. Dimana pabrik pengolahan tembaga dan sebagainya,
PT.Felix Group China menyanggupi untuk membangun Smalter di Papua dengan biaya sendiri, tanpa meminta dukungan dana dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Provinsi Papua.
Disini, baik gubernur, DPRP maupun para bupati kawasan pertambangan,
semua sudah tanda tangani nota kesepakatan untuk Felix Group masuk
berinvestasi di Papua.
Felix Group ini adalah perusahaan salah satu dari murni swasta (bukan
plat merah), namun di dukung penuh oleh China Gold. China Gold ini
merupakan salah satu badan keuangan di China yang padat modal, karena
bukan saja membiayai kegiatan-kegiatan besar di China tapi juga di
negara-negara lain, bahkan IMF (Bank Dunia) juga meminjam uang dari
China Gold ini.
“Gubernur Lukas Enembe sudah bertemu dengan pimpinan China Gold dan pimpinan Felix Group ini. Jadi Felix Group ini berinvestasi murni, sehingga bila ada tanggapan dari para politisi di Papua bahwa Felix Group saat masuk minta uang lagi dari APBN/APBD, saya tegaskan bahwa sama sekali tidak ada, karena berinvestasi murni dengan uang mereka sendiri. Tugas Pemerintah Provinsi Papua/Kabupaten/kota hanyalah melakukan pembebasan lahan seluas 50 Ha-100 Ha dimana pabrik-pabrik itu dibangun,”
jelasnya.
Pihaknya optimis atas semua yang sudah dikerjakan, yakni pabrik listrik tersedia, dan kalau Smalter sudah dibangun di Papua
beserta ikutan pabrik lainnya, maka pendapatan negara dan daerah dari
sektor pertambangan meningkat, karena kebocoran itu berkurang dan tidak
lagi diekspor bahan baku ke China dan Jepang, tetapi semua diolah di Papua,
sehingga bisa diketahui pasti tambang apa saja yang keluar dari
konsentrat yang dihasilkan, misalnya emas berapa persen, perak berapa
persen, nikel berapa dan tembaga berapa persen dan sebagainya. Berapa
ton per hari konsentrat yang dihasilkan dan dari sekian ton itu berapa
pendapatan yang diperoleh.
“Kalau ada pihak seperti Yan Mandenas pesimis bahwa Smalter tidak bisa dibangun di Papua, saya katakana bahwa membangun pabrik itu butuh waktu bukan satu atau dua hari. Atau tidak ada Aladin yang bisa sulap langsung jadi. Felix Group membangun Smalter di China butuh waktu 4 tahun, tetapi kalau di Papua butuh waktu 6-8 tahun,”
bebernya.
Nah, ketika tekan Momerandum of Understanding (MoU) antara Pemerinta Provinsi Papua dan Felix Group, ketika itulah sementara membangun Smalter di Papua, Pemerintah China membantu Papua dalam program magang bagi anak-anak Papua sebanyak 1000/tahun untuk dipekerjakan pada pabrik-pabrik yang akan di bangun di Papua. Magang ini disertai dengan pemberian beasiswa bagi pemuda Papua
yang magang ini. Ini yang harus kita syukuri, karena disini Gubernur
Lukas Enembe terus mendorong untuk pembangunan kawasan industri itu di
Mimika.
Disinggung soal kenapa Freeport tidak mau membangun Smalter, kata Boy
Dawir bahwa ini memang agak sulit, meski Pemerintah Provinsi Papua
sudah menekan secara politik kepada Pemerintah AS dan Freeport, namun
Pemerintah AS menyatakan dalam hal bisnis Pemerintah Provinsi Papua
tidak mencampuri urusan bisnis Freeport. Sedangkan Freeport sendiri
sifatnya bisnis, jadi tidak mungkin akan mengeluarkan anggaran sebanyak
itu untuk membangun Smalter, tetapi sudah menyanggupi untuk membangun
listrik dengan anggaran Rp1 T.
“Untuk pabrik listrik di Mimika akan dibangun dengan kapasitas besar untuk pemenuhan listrik di Papua dan pabrik-pabrik yang dibangun, sementara untuk mendukung PON 2020 tentunya akan dibangun fasilitas listrik pada 5 klaster itu,”
terangnya.
Terkait dengan penolakan komponen masyarakat Mimika, jelas Boy Dawir
bahwa di Mimika terdapat 3 blok masyarakat. Ada blok masyarakat yang
waktu itu ikut ke China sekitar 16 kepala suku. Setelah mereka melihat
Smalter di China, akhirnya mendukung pembangunan Smalter di Mimika,
karena Smalter yang di China mulai dari proses tambang itu diambil
sampai konsentratnya di ambil itu, tidak ada limbah yang dihasilkan
dalam proses pengolahan pabrikan itu, karena semuanya habis terpakai.
Beda dengan yang ada di Gresik ini, yang uap pabrik yang masih keluar
asapnya. Di China itu Analisis Dampak Lingkungannya (Amdal) nya sangat
ketat.
“Smalting Gresik ini kan punya orang Jepang, jadi jelas konsentrat berupa Anoda yang mengandung emas dan perak itu di dimurnikan di China. Jadi di Smalting Gresik ini kan tidak ada transparansinya, berapa nilai rupiah yang dihasilkan, terutama dari kandungan emas itu dan lainnya. Maka ini jelas bisnis yang dikategorikan Black Market. Kami tetap mendukung Gubernur Lukas Enembe pembangunan Smalter di Papua,”
jelasnya.
“Adanya tanggapan dari teman-teman di DPR RI, tetapi apakah teman-teman di DPR RI ini tahu mengenai kebocoran-kebocoran yang terjadi ataukah tidak, dan kalau komentar mendukung Smalter Gresik, maka kami bertanya kira-kira teman-teman di DPR RI dapat bagian berapa dari keuntungan Smalter Gresik, tetapi kalau saya bicara, itu untuk kepentingan bagaimana negara, Provinsi Papua, pemilik hak ulayat dan rakyat Papua mendapatkan keuntungan pendapatan. Saya dipilih rakyat, maka saya wajib bicara untuk kepentingan rakyat,”
sambungnya.
Khusus untuk Fraksi Hanura, dirinya sangat yakin anggotanya tidak
sependapat dengan Yan Mandenas, karena didalam Fraksi Hanura terdapat 3
partai (Nasdem, Hanura dan PKP). Sedangkan dalam kubu Partai Hanura pun
terdapat 5 kadernya yang juga jelas memiliki pendapat pribadi yang
apakah sama dengan Yan Mandenas (karena mereka belum memberikan
pendapat), sementara didalamnya Mus Pigay adalah kader Hanura yang
merupakan anak dari Timika jadi disinilah pihaknya menilai statmen Yan
Mandenas adalah statmen pribadi yang mengatasnamakan Fraksi Hanura.
Baginya, Gubenur Papua berikan perhatian besar, karena sangat mencintai rakyat Papua, sehingga memberikan perhatian serius bagi rakyat Papua
dan tidak mau menciderai rakyat dalam kepemimpinannya. Dengan demikian,
pihaknya dan Gubernur Lukas Enembe kerjakan hari ini tidak lain untuk
meletakan dasar-dasar yang baik bagi rakyat Papua, dan bagi siapa yang akan memimpin rakyat Papua kedepannya. Yakni, regulasi dibuat, supaya kedepan ada kepastian Papua
kedepannya seperti apa, setiap tahun Pendapatan Asli Daerah (PAD)
berapa, dan siapapun gubernur, uangnya dari sumber PAD yang jelas, serta
semua pelaku ekonomi di Papua tahu hak dan kewajibannya.
“Saat ini kami mau buat aturan keseluruhan, dan siapa yang gubernur memimpin, entah itu suatu ketika Yan Mandenas, Marinus Yaung atau siapapun yang menjadi gubernur tinggal lanjutkan dengan aturan yang sudah tersedia itu, kekurangan yang muncul kemudian itu tinggal diperbaiki. Misalnya, masa gubernur Barnabas Suebu ada kekurangan diperbaiki pada masa kepemimpinan Lukas Enembe ini. Ini namanya kesinambungan. Jangan gubernur ganti gubernur bikin hal baru, nanti yang jadi korban adalah rakyat Papua, karena kita tidak buat,”
tukasnya.
Sekali lagi dirinya tegaskan bahwa optimis Smalter bisa di bangun, karena ini demi kebaikan negara dan rakyat Papua.
Dimana Negara mendapatkan pendapatan yang maksimal, dan negara tidak
ditipu oleh Freeport dan anak perusahaannya, begitupula kita di Papua.
Mengenai ada kelompok yang tidak mendukung Smalter dibangun di
Timika. Maka dirinya mengimbau kepada rakyat yang menolak tersebut,
bahwa harus dilihat akar masalahnya apa. Jika menolak membangun Smalter
di Timika, tentunya masih ada kabupaten yang lain, atau suku mana yang
menolak di Timika, atau juga pabrik ini dibangun dimana, apakah dibangun
di hak ulayat pada suku yang menolak atau suku yang menerima. Tetapi
intinya apa yang sudah Gubernur Lukas Enembe dan para bupati kawasan
pertambangan yang sudah menandatangani kesepakatan bersama untuk
membangun pegunungan tengah/Papua. Khusus untuk pembangunan Smalter
tetap dilaksanakan, karena demi kepentingan rakyat Papua yang besar.
Namun, jika pada akhirnya di Mimika masih masyarakat adat keseluruhan
menolak, maka akan dibangun di kabupaten lain, dan ini jelas akan
berdampak pada kabupaten itu untuk tambahan sumber pendapatan baru bagi
PAD nya. Contohnya jika Smalter di bangun di Timika atau Paniai, maka
anak-anak pada wilayah itu diprioritaskan dalam peneriman pegawai pabrik
itu, karena bukan hanya satu pabrik saja, tetapi banyak pabrik yang
dibangun, seperti pengolahan emas, tembaga, perak, nikel dan
lain-lainnya. Jika Timika menolak, tentunya dipindahkan ke Paniai, maka
Paniai-lah mendapatkan keuntungan plusnya, karena selain tenaga kerja
diprioritaskan, PAD meningkat, tetapi juga perputaran uang lebih besar
dan lancar di Paniai, sebab pertumbuhan ekonomi lebih baik, juga
pertumbuhan bidang kesehatan, pendidikan dan lainnya akan mendapatkan
dukungan dari perusahaan-perusahaan pabrik
bersangkutan.(don/don/l03/par)
DPR Papua Optimis Smelter Dibangun di Papua was originally published on PAPUA MERDEKA! News
Sunday, 10 May 2015
Partai Kemerdekaan West Papua Dibentuk di Perth Australia
Partai Kemerdekaan West Papua Dibentuk di Perth Australia
Kabar gembira bagi pendukung dan pemerhati Kampanya Papua Merdeka di manapun Anda berada.
Telah tersiar berita bahwa sebuah Partai Politik bernam “Partai Kemerdekaan West Papua” (Free West Papua Party), berkantor Pusat di Perth, Australia.
Paul Madden sebagai Ketua Partai Politik Kemerdekaan West Papua mendorong sebuah dukungan terbuka dari Australia secara politik untuk kemerdekaan West Papua
karena diyakini bahwa kemerdekaan Timor Leste terwujud dengan dukungan
Australia dan oleh karena itu Australia harus bangkit dan berbicara
secara terbuka untuk kemerdekaan West Papua.
Para pemimpin ULMWP Oktovianus Motte sebagai Sekretaris Jenderal dan Benny Wenda sebagai Jurubicara dikabarkan telah mendoakan pembentukan Partai Politik ini.
Seperti pemberitaan yang telah diterjemahkan PMNews, Partai Politik Kemerdekaan Wset Papua bermaksud mengikuti Pemilihan Umum Federal yang akan diselenggarakan dalam waktu mendatang.
Sumbangan sebesar AUS$1 dikenakan sebagai biaya pendaftaran menjadi
anggota partai baru ini. Dalam formulir ini dinyatakan bahwa siapa saja
yang mau bergabung dengan partai baru ini harus mengakhiri
keanggotaannya dengan partai politik lain.
Apa artinya dukungan ini?
Tentu saja semua ornag Papua, semua organisasi perjuangan orang Papua, semua orang Papua
yang kini berada di Pemerintahan NKRI dan semua yang ada di gereja/
LMS, para tokoh agama dan tokoh adat, semua haruslah bersatu.
Dukungan untuk Papua
Merdeka sudah bergulir sejak akhir tahun 2014 dan sampai saat ini masih
terus mengalir. Banjir dukungan ini tidak akan bakalan terhenti, sampai
tujuan dukungan terwujud: West Papua yang Merdeka dan Berdaulat di luar NKRI!
PMNews mengajak semua pihak yang memperjuangkan Papua Merdeka, pihak yang mendoakan, dan pihak yang tidak senang melihat pertumpahan darah terus terjadi di Tanah Papua.
Orang Papua harus menentukan Sikap yang Jelas saat ini
Entah kita sebagai pejabat negara Indonesia, rakyat biasa, pengurus
di dalam LSM atau gereja, tokoh adat sudah saatnya untuk menunjukkan
warna pikirannya, warna politiknya dengan baik.
Ada banyak pejabat NKRI di Tanah Papua berpikiran bahwa apa yang sedang mereka lakukan selama ini untuk membela kepentingan rakyat sehingga pada saat kemerdekaan West Papua turun, mereka-lah yang akan memegang peran penting dalam West Papua yang merdeka. Padahal tidak-lah demikian. Masa para pengurus NKRI secara otomatis menjadi pejabat negara West Papua?
Di mana logika politiknya? Kalau Presiden NKRI orang Demokrat, maka
calon gubernur dan Bupati dan Walikota dari Demokrat-lah yang menjadi
tuan tanah dalam Pemilukada, kalau Jokowi menjadi Persiden, maka
PDIP-lah yang duluan mencalonkan Bakal Calon-nya ke muka publik. Dalam
NKRI saja partai politik penguasa menentukan siapa yang menjabat.
Apalagi kalau bukan sekedar partai politik, tetapi konstelasi politik
dan negara berubah, “Apakah Gubernur sekarang otomatis menjadi Presiden West Papua?”
Tunggu dulu.
Makanya sekarang-lah saatnya kita bergandengan tangan mendukung
perjuangan ini, karena perjuangan ini kita semua, perjuangan orang Papua, perjuangan untuk melepaskan diri dari NKRI.
Para pejabat NKRI seperti Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Lurah,
Kepala Desa, sudah harus berpikir apa yang yang menimpa kita begitu
dukungan Australia dan rakyat Australia menjadi nyata dan akhirnya NKRI
angkat kaki dari Bumi Cenderawasih.
Labels:
Benny Wenda,
dukungan Australia,
editorial,
politik Kawasan,
ULMWP
Dua Anggota TPN PB dan OPM Yang Ditembak Di Nabire Dirujuk Ke RSUD Jayapura
Dua Anggota TPN PB dan OPM Yang Ditembak Di Nabire Dirujuk Ke RSUD Jayapura
Dua prajurit TPN PB dan OPM pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM)yang
ditangkap bersama pimpinannya Leo Magay Yogi, di Nabire, dievakuasi ke
Rumah Sakit Bhayangkara di Kotaraja, Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua.
Kedua anak buah Leo Yogi itu diterbangkan dari Nabire menggunakan
pesawat Skytruck milik Polri setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUD
Nabire akibat luka tembak yang dideritanya.
Keduanya teridentifikasi bernama Yulianus Nawipa, dan Marcel Muyapa selaku sopir Leo Yogi.
Kabid Dokkes Polda Papua
Kombes dr Raymond kepada Antara di Jayapura, Sabtu, mengatakan,
keduanya tengah diobservasi di RS Bhayangkara, sebelum tim dokter
melakukan operasi “Yulianus Nawipa yang menderita luka tembak. Sedangkan
hanya menjalani pemeriksaan biasa,” kata Kombes Raymond.
Tim gabungan aparat keamanan, pada Kamis (30/4) siang menangkap Leo Yogi beserta kedua anak buahnya serta satu pucuk senpi .
Aksi penangkapan itu diwarnai baku tembak yang menyebabkan dua anggota OPM mengalami luka tembak termasuk Leo Yogi.
Namun nyawa Leo Yogi tidak berhasil ditolong akibat perdarahan yang dialaminya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Popular Posts
-
FUI: Umat Islam Siap Berjihad Tumpas OPM dan RMS FUI: Umat Islam Siap Berjihad Tumpas OPM dan RMS JAKARTA (voa-is...
-
This is a sample video of Indonesian police brutality that all Melanesians in West Papua have been facing since the Colonial Republic of ...
-
RI, PNG explore cooperation in LNG | The Jakarta Post State-owned oil and gas company Pertamina and its Papua New Guinea (PNG) counterpart...
-
By Jake Lynch Posted Friday, 8 May 2009 Indonesia is heading in some promising directions. Triumph for the Democrat Party of President Susil...
-
Papua New Guinea proposes firing-squad executions | The Jakarta Post Following a number of high-profile killings related to sorcery, Papua...
-
Pertamina signs MOU with PNG state oil company | The Jakarta Post State-owned oil and gas company PT Pertamina and Papua New Guinea’s Nati...
-
LPMAP Sorot Penangkapan 5 Aktifis Papua Merdeka JAYAPURA – Pembubaran paksa massa pendemo dari sejumlah kelompok organisasi pro-Papua Merd...
-
RI, Ecuador to hold energy talks | The Jakarta Post Indonesia, currently a net importer of both crude oil and its refined products, will s...
-
SUPPORT FROM THE SOLOMONS Another great photo from Papatura Island Retreat , a surfing/fishing retreat in the Solomon Islands. Be sure...
-
RI, PNG agree to ‘soft’ border approach | The Jakarta Post Indonesia and its neighbor Papua New Guinea (PNG) agreed to use a “soft” approa...
.jpg)



