Pages

Search This Blog

Showing posts with label west papua. Show all posts
Showing posts with label west papua. Show all posts

Tuesday, 12 May 2015

Orang Indonesia lebih Mementingkan Palestina, daripada Papua

Orang Indonesia lebih Mementingkan Palestina, daripada Papua

Malang, Ege News__Sejak [8/7], Palestina dan Israel bertikai secara terbuka. Kedua negara saling melepaskan tembakan. Korban pun tidak terhindarkan. Rasa simpati terhadap Palestina datang dari seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia muncul demo di berbagai daerah untuk mengutuk Israel. Begitu pula ada sumbangan dana dari berbagai komponen masyarakat untuk rakyat Palestina. Bahkan Indonesia, melalui menteri pertahanan Yusgiantoro mengatakan bahwa pihaknya akan segera mengirim pasukan perdamaian untuk menjaga wilayah Palestina. Tidak ketinggalan kelompok garis keras seperti FPI pun mengklaim akan mengirimkan pasukannya.
Menyimak berbagai berita tersebut, saya pun berpikir tentang realitas sesungguhnya yang terjadi di Indonesia, khususnya di Papua. Bahwa di Papua, hampir setiap hari ada manusia yang mati karena berbagai alasan kesehatan (HIV/AIDS, malaria, gizi buruk). Banyak rakyat yang mati karena menjadi korban penembakan kelompok bersenjata. Bahkan tidak jarang, banyak orang Papua, yang mati di tangan TNI dan Polisi, atas nama kedaulatan NKRI. Bukan itu saja, banyak anak usia sekolah yang terlantar dan tidak menerima pendidikan sebagaimana mestinya. Kalau mau disandingkan, situasi di Papua tidak kalah berbahayanya dengan serangan Israel ke Palestina. Tetapi Papua dan penderitaannya dilupakan oleh Indonesia, bahkan oleh sebagian pejabat orang Papua. Rupanya, kalau orang Papua yang mati, itu biasa, tetapi kalau orang Palestina yang mati karena diterjang oleh peluru Israel itu baru luar biasa.
Kalau rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia begitu peduli pada Palestina, mengapa hal yang sama tidak untuk orang Papua? Mengapa ada diskriminasi yang begitu mendalam antara rakyat Indonesia ras melayu dengan orang Papua yang adalah ras melanesia? Mungkin bagi sebagian orang, masalah Papua itu biasa-biasa saja. Orang hanya berpikir, bahwa masalah Papua adalah masalah uang. Kalau orang Papua dikasih uang, itu sudah cukup! Sesungguhnya, Papua memiliki permasalahan yang kompleks. Papua memiliki sejarah. Papua memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Tetapi, persis di atas kekayaan itulah, orang Papua memiliki sejumlah masalah yang pelik, ibarat benang kusut yang sulit terurai.
Bicara tentang masalah Palestina dan Israel, berarti bicara tentang hak asasi manusia. Kedua negara saling mengklaim batas-batas wilayah dan juga ketenangan hidup. Ketika salah satu dari keduanya mencari masalah, maka perang pun pecah. Seandainya, kelompok garis keras Hamas tidak membunuh ketiga remaja Israel secara keji, dan tidak menembakkan roket-roket mematikan ke wilayah Israel, tentu perang tidak akan terjadi. Mungkin ada motivasi lain yang menyebabkan kedua negara saling berperang. Saya tidak mau masuk ke ranah itu, karena sudah terlalu banyak pihak yang memberi perhatian.
Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa bahwa nuansa keindonesiaan di Papua kian memudar. Situasi ini terjadi karena sikap malas tahu Indonesia terhadap jerit tangis dan penderitaan orang Papua. Indonesia malas tahu dengan orang Papua! Mungkin itu istilah yang tepat untuk mendeskripsikan sikap Indonesia terhadap orang Papua. Bahkan para pejabat Indonesia, yang berasal dari Papua pun ikut-ikutan malas tahu terhadap sesamanya orang Papua. Contoh ada di depan mata, betapa sulitnya bangun pasar untuk mama-mama Papua di kota Jayapura. Bukan itu saja, para pejabat orang Papua pun kerap mencuri uang rakyatnya. Korupsi merajalela di Papua. Ini kenyataan sosial yang sedang berlangsung di Papua.
Papua memang punya segalanya: emas, hutan, minyak bumi, cenderawasih dan sebagainya, tetapi Papua kurang cantik dan kurang seksi di mata Indonesia. Papua dilihat sebagai pulau orang hitam, keriting, yang berbusana daun dan kulit kayu. Papua hanya menjadi dapur bagi Indonesia. Tetapi anehnya, ketika orang Papua hendak meninggalkan Indonesia, mau merdeka dan berdaulat, Indonesia justru tidak meresponnya. Indonesia takut dan mengirim banyak tentara dan polisi untuk bunuh orang Papua yang minta merdeka. Sesungguhnya, Indonesia terlalu pengecut! Pada titik ini, saya malu menjadi orang Indonesia. Mungkin banyak orang pun malu menjadi orang Indonesia, yang identik dengan teroris, koruptor, plagiat dan berbagai stigma jelek lainnya.
Ibarat pepatah tua: “gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang laut tampak.” Itulah Indonesia. Masalah di Papua belum selesai, setiap hari orang Papua mati, tetapi tidak dibiarkan. Sedangkan saat Palestina digempur Israel karena ulahnya, Indonesia langsung bereaksi. Bagi Indonesia Palestina lebih berharga daripada Papua. Sentimen apa yang menyebabkan Indonesia menjadi buta dan tuli terhadap jerit tangis orang Papua? Apakah kemanusiaan orang Palestina lebih utama dibandingkan orang Papua?
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Indonesia harus tutup mata terhadap persoalan Palestina-Israel, saya hanya menyesalkan sikap Indonesia yang kurang konsisten memperhatikan rakyatnya sendiri, tetapi mau sibuk dengan negara lain. Indonesia perlu bangun fondasi keindonesiaannya agar mapan, sebelum berkoar-koar mengurusi negara lain. Indonesia perlu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya terlebih dahulu, sebelum mengirimkan jutaan dolar ke Palestina. Sikap solider Indonesia yang berlebihan kurang tepat. Indonesia perlu menata dirinya terlebih dahulu sebelum sibuk dengan negara lain.
Papua adalah salah satu wilayah yang harus menjadi pusat perhatian Indonesia. Orang Papua terlalu banyak menanggung penderitaan karena sikap malas tahu Indonesia. Kini saatnya Indonesia mengarahkan pandangannya ke ufuk timur dan mulai membangun tanah dan orang Papua. Indonesia perlu bangun Papua dengan segenap hatinya, bukan karena terpaksa atau ada motivasi lainnya. Dibutuhkan kejujuran untuk membangun tanah Papua, bukan sikap pura-pura. Jika Indonesia masih terus berpura-pura dengan orang Papua, sebaiknya biarkan orang Papua menentukan nasibnya sendiri di negerinya. Merdeka!

Source: http://indonesiahariinidalamkata.com/indonesia/berita/banyak-orang-indonesia-mementingkan-palestina-daripada-papua/

30 Tapol Papua Akan Dapat Amnesty

30 Tapol Papua Akan Dapat Amnesty

JAYAPURA — Sedikitnya, 30 Tahanan Politik (Tapol) Papua akan mendapat amnesty (pengampunan) dari Presiden RI H. Ir. Joko Widodo (Jokowi) secara bertahap.

Hal itu diawali dengan pemberian amnesty yang dilakukan dalam rangkaian kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Papua, yang mengagendakan bertemu sekaligus memberikan Amnesty atau pengampunan bagi 8 Tahanan Politik (Tapol) Papua yang selama ini menghuni Lapas Abepura, Sabtu (9/5) sekitar pukul 15.00 WIT.

Pembela HAM Papua, Matius Murib kepada wartawan di Abepura, Jumat (8/5) mengatakan, 8 Tapol Papua tersebut, masing-masing Jafrain Murib, Numbungga Telenggen, Apotnagolik Lokobal, Jefri Wanimbo, Jogor Telengen, Kimanius Wenda dan Linus Hiluka.

Menurut Matius Murib, Tapol Papua hingga bulan Februari 2015 berjumlah 38 Tapol. Presiden Jokowi pada tahap awal ini memberikan pengampunan kepada 8 Tapol, sedangkan sisa 30 Tapol secara bertahap bakal dibebaskan puncaknya pada saat HUT Proklamasi RI tahun 2015 mendatang.

Ia menjelaskan, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Provinsi Papua, Lenis Kogoya mewakili Presiden Jokowi pada Jumat (8/5) telah menemui sekaligus menyampaikan tawaran pengampunan kepada ke-8 Tapol tersebut.

Hanya saja, ke-8 Tapol mengakui masalah politik Papua masa lalu telah melibatkan pihak internasional, seperti PBB, Amerika Serikat, Belanda dan Indonesia.

Makanya sangat fair bila persoalan politik diharapkan melibatkan pihak internasional. Ke-8 Tapol ini juga menginginkan setelah mereka dibebaskan Papua langsung merdeka. “Tapi setelah bebas masih dijajah oleh Indonesia dan masih tak aman, bahkan ditangkap lagi mereka justru menolak Amnesty Presiden,” tandas Matius Murib.

Dikatakan Matius Murib, Amnesty adalah sebuah tindakan hukum yang mengembalikan status tak bersalah kepada orang yang sudah dinyatakan bersalah secara hukum sebelumnya. Amnesty diberikan oleh badan hukum tinggi negara semisal badan eksekutif dan legislatif atau yudikatif.

Di Indonesia Amnesty merupakan salah-satu hak Presiden di bidang yudikatif sebagai akibat penerapan sistem pembangunan kekuasaan. (Mdc/aj/l03

Source: Minggu, 10 Mei 2015 02:30, BinPa

Sunday, 23 November 2014

Masyarakat, Pemuda, dan Mahasiswa Papua Marilah berjuang dengan sunguh-sunguh dan serius, setia, jujur, bijaksana, aktif serta kontinuitas untuk PAPUA MERDEKA

Semua hasil karya yang dimuat di situs ini baik berupa teks, gambar dan suara serta segala bentuk grafis (selain yang berkode IST) menjadi hak cipta SPMNews-WPNews Group Online Services

Kami Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) memperingatkan kepada pemuda dan mahasiswa papua untuk tidak menjadi agen kolonial Indonesia melalui Komite Nasional Pemuda Pancasila Anti Korupsi Indonesia Propinsi Papua (KONPAK).

Kami Masyarakat, Pemuda, dan Mahasiswa Papua TIDAK ada kepentingan apapun berbicara tentang tetang korupsi di tanah papua. Kami Bangsa Papua murni ingin "PAPUA MERDEKA" memisahkan diri dari kolonial indonesia, Kami pemuda dan mahasiswa papua dilahirkan untuk meneruskan sapirasi bangsa papua untuk keluar dari cengkraman kolonial indonesia. Kami berjuang demi KEBENARAN sejarah sang Bintang Kejora, bukan membahas masalah Korupsi, Kesejahtraan, Pembangunan, UP4B, OTSUS di papua. Sebab Korupsi itu bukan budaya orang suku bangsa melanesia papua. 

Kami memberitahukan kepada kawan-kawan pemuda dan mahasiswa papua yang sedang terlibat mengambil bagian di organisasi atau komunitas butan penjajah (indonesia) dalam hal ini adalah KONPAK PAPUA, Silahkan saja anda berbicara atau membahas di Jawa - Jakarta disana, karena korupsi itu berasal dari sana dan itu sudah budaya mereka, jangan bawah-bawah masalah korupsi di papua apalagi menggerahkan masyarakat, pemuda dan masyarakat untuk melawan korupsi apa sih untungnya bagi orang papua ???  Apa lagi menyebut pemuda pacasila papua,....wow..wow..wow..Dalam rangka apa ini ??? Dari sudut pandang apa ini ??? Memangnya nenek moyang bangsa melanesia (Papua) pernah berjuang untuk indonesia merdeka ??? 

Kami Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) murni berjuang untuk "Papua Merdeka" BUKAN urus masalah korupsi dan sebagainya. Kami memberitahukan kepada KOMPAK PAPUA untuk tidak mempengaruhi rakyat, pemuda, dan mahasiswa yang sedang berjuang untuk keluar dari cengkraman kolonial indonesia dengan politik, pembanguna, kesejahtraan, UP4B dan sebagainya.

Apa pentingnya orang papua bicara korupsi ??? Apa untungnya korupsi di papua ??? Sedangkan kami rakyat papua ingin MERDEKA penuh sebagai Negara Berdaulat, Bukan bicara tentang OTSUS, UP4B, PEMBANGUNAN, PEMEKARAN, KESEJAHTRAAN dan Segala Macam di seluruh Tanah Papua kami mengutuk keras siapapun ANDA !

" HAI PEMUDA DAN MAHASISWA PAPUA DIMANAPUN ANDA BERADA, BERJUANG DAN BERBICARALAH DEMI BANGSA DAN TANAH PAPUA BERSAMA KEBENARAN SEJARAH SANG BINTANG KEJORA"

++++++----------------------------------------++++++
AMP 


 Masyarakat, Pemuda, dan Mahasiswa Papua Marilah berjuang dengan sunguh-sunguh dan serius, setia, jujur, bijaksana, aktif serta kontinuitas untuk PAPUA MERDEKA !

Tuesday, 4 November 2014

KRIMINALISASI TERHADAP GUSTAF KAWER MEMBUNGKAM DEMOKRASI DI PAPUA


KMSPHHP

Sungguh ironis dan sangat mengerikan, ketiga melihat pembungkaman ruang demokrasi, kriminalisasi terhadap terhadap aktivis HAM Gustaf Kawer, diskriminasi rasial , pambatasan terhadap hak sipil dan hak politik terus dibungkam di Papua Barat.

Gustaf Kawer satu-satunya Pengacara papua yang selama ini menjadi pahlawan bagi rakyat sipil di papua, kini dikriminalisasi oleh pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan aparat kepolisian dengan skenario yang disusun sedemikian rupah untuk menjeroboskan Pembela HAM Gustaf Kawer di penjara. Sesungguhnya Gustaf Kawer tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum seperti yang ditudukan oleh PTUN melalui surat pengaduan kepada kepolisian dareh Polda Papua.

Sebab Pada tanggal 12 Juni 2014, sekitar jam 10.30 WIT berlangsung sidang putusan perkara dengan Nomor : 39/G/2013/PTUN.JPR di pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura. Gustaf Kawer telah melakukan komunikasi dengan panitera atas nama Ade Rudianto, agar persidangan ditunda selama satu minggu, karena Gustaf Kawer juga harus mendampingi klien dalam persidangan lain, yang dilaksanakan pada waktu yang sama di Pengadilan Negeri Klas IA Jayapura.

Karena Persidangan di PTUN tersebut mengagendakan pembuktian terdakwa, yang sangat menentukan pada keputusan, maka agenda persidangan tersebut wajib dihadiri oleh advokat, yang memberikan perhatian serius terhadap kliennya.

Namun permohonan penundaan persidangan tersebut ditolak lewat sms dengan alasan penggugat prinsipal sudah berada di dalam ruang sidang, maka Gustaf Kawer langsung datang ke pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura, untuk meminta menghentikan pembacaan keputusan oleh majelis hakim. Gustaf Kawer merasa bahwa, tindakan majelis hakim tidak adil karena selama persidangan perkara tersebut pihak majelis hakim mengabulkan tiga kali permohonan penundaan persidangan yang diajukan oleh pihak tergugat melalui sms.

Saat Gustaf Kawer masuk ruang sidang, Majelis Hakim yang memimpin persidangan sedang membacakan putusan. Sambil berjalan ke arah majelis hakim, Gustaf Kawer meminta dengan tegas agar majelis hakim tidak melanjutkan pembacaan putusan dan menghargai permohonan penundaan sidang, seperti yang telah dilakukan terhadap permohonan pihak tergugat dalam agenda proses pembuktian. Hakim tetap melanjutkan persidangan dan memerintahkan Gustaf Kawer keluar meninggalkan ruang sidang.

Pada hari Jumat, tanggal 22 Agustus 2014, sekitar jam 18.00 WIT kepolisian daerah Papua datang ke rumah pribadi Gustaf Kawer, mengantar surat panggilan polisi NO. Sp. Pgl / 668 / VIII / 2014 / Dit Reskrimum tertanggal 19 Agustus 2014. Gustaf Kawer dipanggil untuk pemeriksaan pada tanggal 25 Agustus 2014, jam 10.00 WIT, sehubungan dengan dugaan tindak pidana “Kejahatan Terhadap Penguasa Umum” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 dan 212 KUHP. Atas protes Gustaf Kawer terhadap hakim yang memimpin sidang pada tanggal 12 Juni 2014 di Pengadilan Tata Usaha Negara.

Surat panggilan dari POLDA Papua tertanggal 19 Agustus 2014, Gustaf Kawer tidak memenuhi panggilan tersebut, sebab pemanggilan tidak sesuai prosedur, karena penyidik POLDA Papua menyurati secara langsung dan tidak melalui lembaga Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), sebagaimana diatur dalam MoU antara Kepolisian Republik Indonesia dan perhimpunan Advokat di Indonesia tentang “Proses Penyidikan Yang Berkaitan Dengan Pelaksanaan Profesi Advokat”.

Jika melihat dari kronologis tersebut kita simpulkan bahwa, kriminalisasi terhadap Advokat hukum Gustaf Kawer adalah sebuah konspirasi PTUN dan kepolisian menyusun sebuah skenario membungkam penegakan hukum terhadap rakyat sipil di Papua, pada umumnya lebih khusus kriminalisasi terhadap Gustaf Kawer yang selama ini mengadvokasi aktivis Papua merdeka dan rakyat sipil.

Realita hari ini hukum di negeri ini tajam ke bawa dan tumbul ke atas, hukum bisa dibeli dengan rupiah yang lemah dihukum seberat-beratnya sedangkan yang kuat kebal dengan hukum dan yang benar dapat disalahkan dan yang salah dapat dibenarkan ironis bukan….!!

Kriminalisasi terhadap organisasi gerakan kriminalisasi terhadap advokat hukum atau aktivis HAM menadakan adalah salah satu upaya Negara membungkam kebebasan hak berexpresi bagi rakyat sipil di Papua Barat.

Sebuah pertanyaan yang patut kita tanyakan adalah, Masih adakah keadilan, kebenaran, kebebasan berexpresi, penegakan hukum dan ruang demokrasi di negeri ini ? jika tidak, apa artinya disebutkan Negara demokrasi dan Negara hukum, pada kenyataanya lembaga penegag hukum dan intitusi Negara terus kriminalisasi terhadap aktivis HAM dan membungkan hak demokrasi serta hak berexpresi di bumi cendrawasih.
Apakh kita harus diam tunduk dibawa kaki penguasa ? Jika kita diam dan bisu maka siapakah yang akan datang memberikan pertolongan, ?

Gustaf Kawer satu-satu pengacara Papua yang berani dengan menaggung berbagai resoko membela Rakyat sipil dan aktivis Papua kini mau dikiring ke pores hukum untuk membatasi ruang gerak advokasi terhadap rakyat sipil, mengapa kita harus diam terlena dalam irama penindasan. Jika Gustaf Kawer kriminalisasi dengan alasan yang tidak jelas, dan natinya Gustaf dipenjarakan oleh PTUN dan kepolisian maka siapa lagi yang akan mengadvokasi rakyat membela penegakan hukum di Papua ?

Gustaf Kawer ditangkap dan selanjutnya di penjarakan maka tidak ada lagi pengacara yang berani mengadvokasi rakyat sipil dan aktivis Papua yang selalu menghadapi poroses hukum yang tidak adil, penagkapan sewenag-wenag oleh aparat kepolisian dengan stikma Kriminal, Makar, GPK, OPM separatis dan lain-lain.

Kriminalisasi teror intimindasi terhadap aktivis HAM di Papua bukan baru pertama kali terjadi namun, sering kali dan kerap dilakukan, ada beberapa pengacara seperti Olga Hamadi, ibu Anum Siregar dan advokat lainya juga seringkali mendapatkan terror melalui sms gelap intimidasi.

Hal sama kini dialami oleh Gustaf Kawer, hal ini merupakan bentuk diskriminasi pembungkaman demokrasi dan kriminalisasi terhadap pembela HAM di Papua Barat.

Oleh karena itu dukungan moril dan solidaritas, Kontribusi sumbasi pikiran serta keterlibatan penuh dari Bapa Ibu, saudara/i Pimpinan Gereja pimpinan organisasi pos moral, organisasi gerakan, gerakan mahasiswa, masyarakat adat, Aktivis HAM, Aktivis Papua Merdeka, gerakan perempuan dan seluruh komponen rakyat Papua Barat dari Sorong sampai merauke, sagat dibutuhkan oleh Gustaf Kawer untuk mendesak PTUN cabut surat pengaduan ke polda papua dan mendesak Polda Papua hentikan surat pemanggilan, serta penyelidikan terhadap Gustaf Kawer selanjutnya sagat bermanfaat demi keberlangsungan demokrasi dan penegakan HAM di Papua .

Demikian Seruan umum Atas perhatian dan partisifasi dari bapa Ibu saudara/i sekalian tak lupa kami haturkan berlimpah terima kasih Tuhan yesus memberkati kita semua di Tanah Papua.


Sumber: FB Ones Nesta Suhuniap

Bila Ingin Papua Tetap Dalam NKRI, Bangun Dengan Hati


Mahasiswa saat melakukan demo damai menyangkut kasus kekerasan di Papua ( Foto: Ist)
JAYAPURA, SUARAPAPUA.com --- Pemerintah Indonesia diminta tidak hanya memperhatikan kesejahteraan dan pembangunan infrastruktur di tanah Papua, tetapi harus melihat hak-hak dasar orang Papua yang telah diberikan oleh Tuhan sejak manusia masih di dalam kandungan seorang Ibu.
Pernyataan ini disampaikan pendeta muda Gereja Kemah Injil Indonesia, Josua Yikwa, saat ditemui suarapapua.com, di kediamannya Perumahan PDAM Buper, Waena, Jayapura, Papua, beberapa waktu lalu.
“Tuhan mengatakan selagi masih di kandungan, dia sudah mengenal kita, artinya sudah punya rencana untuk kita, karena itu hak-hak kita harus diperhatikan, dan tolong bangun Papua dengan hati, bukan dengan pendekatan keamanan," kata Josua.
Dikatakan, melihat kondisi Papua hari ini, terus terjadi berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan aparat pemerintah Indonesia, karena itu perlu mendapatkan perhatian yang serius, jika masih menginginkan Papua di dalam NKRI.
”Pelanggaran hak hidup orang Papua dirampas, kekayaan alam diambil, maka kalau kita lihat kenyataan yang terjadi di tanah ini, kita seperti seorang pendatang dari negeri lain.”
"Sementara pemerintah mengatakan bahwa Otsus solusi terbaik untuk mensejahterakan orang Papua, memang betul, tetapi jika masih saja terus terjadi korupsi, maka tidak ada artinya untuk orang Papua," tegasnya.
“Kalau mau bicara solusi setiap orang punya persepsi tersendiri, contoh saja Jakarta berpikir bahwa Otsus itu solusi bagi orang Papua, tetapi kenyataannya Otsus telah gagal. Gagal karena banyak pejabat Papua yang rakus dengan uang rakyat.”
Dia berharap, para koruptor yang selama ini melakukan korupsi terhadap uang-uang rakyat dapat ditangkap, agar kesejahteraan masyarakat Papua benar-benar terjamin.
“Kalau bilang Otsus solusinya, buktikan dulu, tangkap tikus-tikus yang rampas uang rakyat, dan masuk di penjara, biar kesejahteraan akan nyata,” tegasnya.
Editor: Oktovianus Pogau
AGUS PABIKA
Sumber :  www.suarapapua.com

PEMAHAMAN PEMEKARAN BAGI MASYARAKAT PAPUA KHUSUSNYA MASYARAKAT MAPIA


Wilaytah Pemekaran di Tanah Papua (foto, Umagi)

PEMAHAMAN PEMEKARAN BAGI MASYARAKAT
MAPIA  DI PAPUA
Pemekaran merupakan program pemerintah Jakarta, yang digunakan sebagai jalan kehadiran dirinya bagi Papua. Namun kehadirannya hanya selalu menjadi neraka bagi Papua sekalipun kelihatan postur tubuhnya nampak baik bagikan malaikan Tuhan di surga. Tak banyak membawa perubahan yang kontekstual ketika pemerintah menguasai Paua sejak 1 Mei 1963 hingga sekarang. Maka rakyat kini dituntut perlu untuk memahami baik-baik kehadiran pemerintah Jakarta di Papua dan rencancan pemekarannya secara terlebih dahulu. Karena itu, bahan sosialisasi ini kiranya dapat menjadi obat bagi rakyat terutama dalam menentuk sikap menerima atau menolak rencan pemekaran di Tota Mapiha demi kebaikan generasi Papua nanti. 
1.      Pengertian pemekaran
Pengertian pemekaran menurut Mahasiswa SIMAPITOWA  adalah  berdiri sendiri, membuka suatu daerah baru,  bercerai dengan komunitas lain, membuat rumah baru, dan bangkit dari berbagai aspek kehidupan untuk membangun peradaban baru. Jadi pemekaran adalah memisahkan diri dari daerah administratif lama untuk membuka/membentuk suatu wilayah atau daerah administratif baru dengan memiliki kepala pemerintahan baru baik itu di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten kota. 
1.1.                        Dampak  Negatif  dan Positif dalam Berbagai Aspek
1.1.1                    Aspek Pendidikan
a.      Dampak positif sebelum pemekaran bagai keberadaan Tota Mapiha
Kehiudpan  anak bangsa Tota Mapiha sebelum hadir pemekaran memang sudah semakin baik. Pola  kehidupan  terutama karakter pendidikan masyarakat dulu, orang tua di rumah mengajari mengenai cara berkebun, membuat rumah, cara membuat alat-alat budaya dan mengajari bagaimana mereka harus bisa berburu untuk memjadi manusia sejati. Sedangkan di sekolah  pada zaman Belanda, guru mengajari tentang berbagai mata pelajaran yang berguna seperti pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan pelajaran IPA serta IPS, Agama dan Budaya. Para misionaris bersama guru-guru Kei dan Jawa telah memberikan sejumlah mata pelajaran secara baik tanpa menerima upah atau gaji banyak. Tetapi mereka adalah orang-orang yang setia, sabar dan jujur serta adil, bebas dan tekun dengan tugas luhur mereka demi  menciptakan manusia asli Papua yang berkualitas.
Demi terciptakan kualitas manusia itu, maka mereka mengajarinya dari huruf ke huruf  dan dari mata pelajaran ke pelajaran kepada anak-anak tersebut. Cara mengajaran mereka itu telah membuat anak-anak muda sampai murid-muridnya benar-benar menjadi pribadi yang professional dan punya hati untuk  Tanah dan masyarakatnya sendiri demi kemajuan sumber daya manusia (SDM) di berbagai aspek hidup dalam konteks pendidikan.
Selain pengembangan pendidikan dalam lingkup di sekolah, orang tua dulu juga telah menanamkan nilai-nilai moral, injili dan budaya dalam setiap diri anak-anak mereka. Nilai-nilai umum tentang pendidikan seperti keadilan, kebenaran, keadilan, kedamaian, cinta kasih, kebahagiaan seperti prinsip-prinsip dasar dari pendidikan seperti kesabaran, kejujuran, ketekunan dan kesetiaan serta kesatuan, gotong royong, solidaritas dan kepekaan telah diajarkan, ditanamkan, dibentuk dan membuat anak-anak mereka untuk tetap menghayati kesemuanya secara terus-merus agar mereka bisa menjadi manusia sejati.
b.       Hal positif bagi kehiudpan  anak  bangsa Tota Mapiha setelah kehadiran Pemekaran
Pemerintah membiayai studi bagi  para mahasiswa/I putra daerah. Biaya ini biasanya diberikan pemerintah bagi para Mahasiswa yang berstudi akhir. Kepada mereka ini, uang studi akhir diberikan pemerintah pada setiap akhir tahun dengan jumlah biaya paling terbatas. Itu pun tidak lebih dari Rp 1000,0000 bagi para Mahasiswa. Tetapi pengalaman telah memperlihatkan bahwa banyak di antara mereka tidak pernah menerima dana alokasi pendidikan tersebut. Akhirnya banyak Mahasiswa selalu saja mengalami kesulitan dalam membiyayai pendidikan.
Pemerintah juga telah membiyayai  tenaga guru dari “orang luar”. Pemerintah biasanya mengontrak tenaga guru dari luar dengan mengeluarkan dana yang paling mahal sekali. Sekalipun pemerintah mengeluarkan dana seperti itu, akan tetapi tindakan pengajarannya tidak banyak mencetak sumber daya manusia Papua yang handal. Kegalan mereka dalam membentuk otak anak-anak asli Papua itu bukan karena kesalahan memilih tenaga pengajar. Bukan juga karena materi yang diberikan itu bermuatan tidak berguna bagi para Mahasiswa Papua. Tetapi kekegalan ini pertama-tama boleh terjadi justru karena metode pendidikan yang tidak membebaskan manusia sebagai makhluk bebas secara sejati. Karena itu, kita tidak heran hanya jika Indonesia telah dikagetkan oleh Saudara kita geniusitas Septinus George Saa mendapat prestasi yang baik di tingkat Asia melalui berkat didikan Surya Pallo pada 2004. 
Setelah kehadiran pemekaran Kabupaten Nabire 1960 an dan Dogiya pada tahun 2008, orang Mapiha telah diterima sebagai pejabat birokrasi, guru, pertanian dan pertukangan serta mantri.  Mereka itu tidak hanya berkaryat di wilayah Tota Mapiha, tetapi juga menyebar ke seluruh tujuh (tujuh) suku yang berada di bagian pantai dan beberapa wilayat adat di pegunungan tengah Papua. Pemberdayaan sumber daya manusia terutama telah dinyatakan pemerintah melalui Dinas Pendidikan sehingga kita mengenal adanya tenga kerja  dalam bidang birokrasi secara khususnya. Dinas pendidikan yang sudah membuka sekolah SD, SMP, dan SMA bagi rakyat bangsa Tota Mapiha. Orang Mee memang telah menjadi manusia pertama sekalipun memiliki tidak banyak ilmu dan teknologi seperti sekarang.
.
c.       Hal Negatif dalam Kehiudpan Tota Mapiha setelah kehadiran pemekaran
Sobat-sobat, kita setelah adanya pemekaran ini sangat paling sadis dan berbahaya sekali. Pola kehidupan orang tua kita sekarang ini jarang mengajarkan bahasa ibu/ bahasa Tota Mapiha. Orang tua  jarang mengajar berkebun, ritus-ritus adat dan jarang mengakan kepada anak-anaknya bagaiman mereka harus berburu. Orang tua membiarkan anak-anaknya berbuat apa saja menurut kehendak mereka secara leluasa tanpa ada bimbingan yang ketat dari orang tua kandungnya. Dengan sikap keenakannya, mereka tak tahu pola karakter pendidikan warisan dari leluhurnya.  Cara hidup merekapun semua serba ada-ada saja. Itu artinya bahwa dengan adanya  kehidupan pemekaran secara sepihak, maka dari aspek manapun kita saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kehidupan baik dari dalam maupun datang dari luar Tanah Tota Mapiha. Tapi yang paling dominan bahwa keberadaan kita itu pasti sudah dipengaruhi oleh keberadaan yang datang dari luar secara tidak terkontrol. Ketidakkekontrolan atas realitas keberadaan Tota Mapiha ini menurut mereka sudah merupakan program utama secara sistematis, terstruktur dan terpola untuk merebut keberadaan alam dan seisinya demi kemerdekaan mereka sendiri. Anda jangan berpikir bahwa kita akan jadi manusia pintar, pintar dan berkualitas dari pemerintah Indonesia.
Sedangkan sobat-sobat kita lihat realitas yang terjadi dikehidupan guru pada  zaman sekarang di Tota Mapiha adalah, tugas dan fungsi sebagai guru tidak taat atau setia pada  tugus guru yang sesunguh-sungguhnya.  (Guru) ia meninggalkan sebagai pekerja guru dan ia lari kejar suatu jabatan maupun kekuasaan perutnya sendiri tanpa mengingat sanak saudara yang sedang menderita di sampingnya. Dan realitas dan tampak di posisi mata kita sekarang adalah metode mengajar pada zaman Belanda sangat berbeda jauh dengan pola mengajar pada zaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI). Efek negative/ buruk pada zaman belanda itu sangat tidak menonjol dan tidak ada di depan mata orang Tata Mapiha. Dari pada metode mengajar pada zaman NRI dengan takaruan atau cara korupsi dan pola mengajar penindasan di papua tanpa dihargai sebagai manusia berwibawa dan bermartabat yang luhur serta manusia yang luhur tersebut tidak bekerja pada daerahnya sendiri. Contoh konkret yang terjadi di saat ini adalah guru maupun siswa selalu kaget ketika ada datangnya ujian sekolah maupun ujian nasional. Dalam hal ini tidak ada kesadaran  jati dirinya sebagai tanggumgjawab  pada posisi  kedudukan tugas guru dan tugas murid.

Dengan adanya pemekaran tersebut diwilayah pemekaran selalu terjanya dengan membuka sekolah sebanyak-banyak tanpa mempertimbangkan tenaga pengajar. Realitas yang terjadi juga guru tidak mau mengabulkan permintaan siswa artinya bahwa pemikiran siswa mau mencari sekolah yang berbobot tetapi guru tidak memberikan surat pindah kesekolah yang mutu tersebut. Oleh sebab itu, akan  berdampak pada mutu sekolah, tenaga pengajar, dan murid. Pemerintah tidak menyediakan asrama bagi para mahasiswa/I putra-putri   daerah di stiap kota studi yang sudah ada.
d.      Kehidupan pendidikan ke depan dalam konteks pemekaran
Ketika upaya pemekaran ini dinyatakan oleh pemerintah nanti, maka perubahan pola pikir dan bertindak akan terjadi secara drastic. Anak-anak didik sudah akan menilai sesama dan lingkungan sebagai biasa-biasa saja. Baik orang tua, guru dan para penjabat pemerintah dan Gereja akan dianggap sama saja. Tidak aka nada penghargaan dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai manusia adanya. Bahkan nilai-nialai pendidikan pasti tidak diperakktekkan bagi kebaikan keberada diri dan sema. Lagi pula, kita akan jadi penonton yang berujung pada kematian dalam konteks pendidikan dan karena itu esensi.pendidikan akan kembali dalam dunia ilusi belaka saja.  
Anak didik menilai guru pengajarnya menjadi teman bermain. Siswa ambil rokok milik guru, guru isap rokok di depan kelas, dan guru dan siswa mengisap rokok secara bersama-sama sambil merumpi dan berkejar-kejaran yang terjadi selama ini merupakan ukuran realitas pendidikan nanti ke depan dalam konteks pemekaran baru tersebut. Anak bangsa Tota Mapiha ke depan, hal negative yang akan terjadi atas keberadaan mereka yakni menjadi pribadi yang tidak pernah mengenal diri, asal dan tujuan hidupnya. Sepertinya generasi  muda anak bangsa tota Mapiha tidak akan kenal soal pendidikan seperti yang tejadi selama ini. Dan akhirnya, mereka hanya akan cinta bunuh dengan minuman keras, penciuman aibon, dan palang-memalang mobil yang sedang lewat di jalan utama atau jalan raya. Orang muda maupun orang tua Tota Mapiha akan kenal pendidkan mengenai  tulang belulang yang sudah dibunuh oleh TNI/ POLRI melalui kehadiran pemekaran. Orang muda dan orang tua yang masih tersisa hidup ini akan kenal dengan bahasa mitos, alam abunawas. Keberadaan diri bersama kekayaan yang terkandung dalam wilayah Tata Mapiha itu pasti akan dibiarkan dan diambil bawa pulang  oleh para Penguasa. Orang muda dan orang tua yang sedang menikmat nilai sisa hidup ini pun akan mencari tempat penginapan/ mencari ilmu penegetahuan seperti kehidupan tupai/ kagadaga. orang muda Tota Mapiha akan terjadi dengan terlantar dari pendidikan di atas tanahnya. Orang muda Tota Mapiha nantinya akan makan lemak dan daun hangus barapen  dari hasil orang pendatang yang punya power.
Ada dana Bos di setiap sekolah, dana intensip untuk guru dan Gedung-gedung sekolah. Tetapi kesemua itu bukan dikelola oleh orang asli Tota Mapiha melainkan orang pendatang. Hal ini menjadi sebuah kepastian karena memang pemekaran diberikan untuk tempat hidup bagi orang pendatang telah lama disiapkan oleh Negara demi memperluas kedaulatan pemerintahan RI di Papua. Mapiha rakya akan menjadi Indonesia Raya ke depan jika memang pemekaran sungguh-sungguh diterima oleh masyarakat Tota Mapiha pada zaman sekarang. Kita adalah penentu kehidupan pemerintah RI di Tota Mapiha ke depan.
1.1.2. Aspek Kesehatan
2.1. Hal-hal positif  dari Pemekaran
a.      Wajah kehidupan Tota Mapiha sebelum hadir pemekaran
Sebelum kehadiran pemekaran bagi rakyat Tota Mapiha, rakyat biasanya hidup sehat. Tidak ada berita bahwa orang Tota Mapiha telah meninggal mati muda. Kalaupun ada berita duka seperti itu, penyebabnya bukan karena penyakit musiman tetapi karena perbuatan kejahatannya sendiri. Dan perbuatan jahat itu kemudian tidak pernah mengatasinya dengan berdoa, bertobat dan atau tidak mengobatinya dengan membuat obat ramuan. Sebenarnya jika mereka mengkonsumsi obat ramuan, berdoa dan bertobat itu tentunya tidak mengalami kematian pada usia muda. Mereka bisa hidup sehat sampai umur panjang. 
Dalam sejarahnya telah memperlihatkan bahwa segala sesuatu yang dimiliki mereka adalah sehat dan tidak sakit. Mereka punya obat banyak, punya ritus doa yang jelas dan pedoman-pedoman yang mengatur bagaimana mereka harus hidup sehat. Ada realitas bahwa alam telah menyediakan banyak obat, benda-benda yang menjadi sumber dan puncak melahirnya hidup sehat bagi mereka. Misalnya, pugee, hami, dabee, dako, dagoo dan udee, komunitas kali/sungai/ komunitas hewan adalah sumber-sumber daya alam yang biasa dibudidayakan sebagai obat genius lokal bagi mereka dalam sepanjang sejarahnya. Maka Kenyataan alam sekitarnya bahkan mereka sendiri adalah makhluk kesehatan. Karena itu, mereka hidup panjang sampai rambut putih. Di bawah ini adalah pokok-pokok dasar dari sumber-sumber kesehatan bagi mereka yakni:
-          Ada obat-obat ramuan/alamiah
-          Ritus-ritus/upacara adat (kamu Tai, koto tumi, bago tai, teto dei, dsb)
-          Air kali dan sungai sebagai  obat dan pemberi kesehatan yang baik bagi mereka karena realitas air belum tercemat.
-          Tida ada berbagai penyakit medornisasi, atau tidak ada penyakit musiman yang memakan korban nyawa banyak secara cepat. Misalnya Tidak ada HIV-AIDS, batuk dan tidak ada penyakit kecepatan perkembangan postur tubu manusia.
-          Semua kuat dan dewasa.
-          Selalu saja ada kebijaksanaan tubu, pikiran dan hati mereka. Totalitas diri mereka adalah realitas kebijaksanaan konkret.
-          Mereka adalah makhluk hidup kesehatan.
-          Ada sistem kehidupan sehat bagi mereka. misalnya mereka biasa melestarikan kebersihan alam kingkungan setempat, membersihkan kotoran di rumah, merawat kebun dan menguasai realitas alam secara adil, jujur, bijaksana dan bertanggung jawab dalam setiap alangkah kehidupan.
b.      Kehiudpan  setelah Pemekaran
-          Ada obat-obatan Negara
-          Tenaga medias
-          Adanya penyuluhan kesehatan
-          Tiap kampung sudah dan akan ada Postu: Pos Pelayanan Kesehatan. Tapi semuanya menjadi sia-sia kerena tali kematian terus berjalan bagi orang asli Papua.
c.       Kehiudpan kedepan hadir pemekaran
-          Obat-obatan, tenaga medis, ada juga penyuluhan dan akan dibangun postu. 
2.2 Hal-hal Negative dari pemekaran dalam konteks kesehatan
v  Kehiudpan sebelum hadir pemekaran
-          Tidak ada obat-obatan modern
-          Perawatannya akan menjadi miskin di Rumah
-          Tenaga medisnya sangat minim.
-          Potensi kesakitan yang berakhir pada kematian orang Tota Mapiha akan tetap meningkat. Nanti akan ada pembunuha sistematis melalui kesehatan di Kab. Mapiha Raya, seperti kita Jayapura sekarang ini. Berapa banyak si orang Tota Mapiha?
v  Kehiudpan  setelah atau sekarang hadir pemekaran
-          Obat-obatan alamiah hilang.
-          Kehancuran nilai-nilai kesehatan adat setempat.
-          Kesehatan rakyat akan menjadi telanjang tanpa bingkai kesehatan adat.
-          Obat kadarluarsa diberikan bagi rakyatnya sendiri.
-          Adanya program KB.
-          Adanya penyakit HIV/AIDS.
-          Pembukaan lokalisan yang dapat menyebarkan berbagai penyakit baru.
-          Limbah-limbah industry.
-          Potensi longsor yang meluas karena pemerintah pasti akan mengutamaka membuka pembangunan fisik.
-          Tanpa penyebab orang akan meninggal.
-          Pencemaran sungai, udara, air dan tanah.
-          Biaya kesehatan akan meningkat tanpa dialog bersama.
-          ma
v  Kehiudpan kedepan hadir pemekaran
-          Kita akan konsumsi makanan yang dijual di Toko.
-          Kita lupa bahkan tidak diberdayakan untuk mengolah obat alamiah.
-          Biaya makan-minum keluarga akan meningkat.
-          Akan ada toko Miras, aibon dan mainan-mainan yang tidak berdampak positif.

1.1.3.      Dampak Positif dan Negatif Pemekaran dari Perspektif Budaya
Kehidupan budaya dapat berubah ketika terjadi dominasi badaya baru dari luar. Orang setempat teramat paling mudah sekali dipengaruhi oleh orang luar dengan dominasi budaya secara sistematis dan terpola. Dia tahu berbagai cara dan tindakan untuk menghancurkan hal-hal mana yang dasar dan pilar utama bagi pihak pribumi yang hendak dikuasai itu. Kehidupan budaya masyarakat pribumi adalah kekuatan utama dari dan untuk mempertahankan KEHIDUPAN. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan berbudaya kita ini sekarang tidak telepas dari kehadiran pemerintah Indonesia. pertanyaan apakah kehadiran pemerintah ini mau menghancurkan atau menghidupkan KEHIDUPAN budaya orang asli Tota Mapiha melalui pemekaran Kab. Mapiha Raya, yang diupayakan pemerintah sekarang ini. Maka dampak-dampak negative dan positif yang akan diuaraikan di bawah ini kiranya merupakan bahan pertimabangan untuk menilai layak tidaknya kehadiran pemerintah melalui jalan pemekaran tersebut:  
a.      DampakPositf  bagi “Kehiudpan” Tota Mapiha sebelum hadir pemekaran
-          Ada nilai-nilai dasar tota mana
-          Ada koteka-moge sebagai pakaian kemuliaan adat
-          Ritus-ritus adat
-          Perkawanan adat
-          Pesta adat
-          Lagu-lagu adat
-          Hukum-hukum, aturan dan perintah, nasehat, petuah, ajaran, puisi, syair, pantun dan dongen, hikayat, cerita pendek serta nubuat, ramalan, waziat dan mimpin-mimpinya selalu saja diwariskan secara lisan, rasional dan pengalaman hidup mereka dari generasi yang tedahulu kepada generasi yang berikut. Belum ada budaya tulis bagi mereka tempo dulu.
-          Bahasa daerah hidup
-          Uka-mapega sebagai senjata (semua berbau adat).
-          Sistem kehidupan budaya
-          Berjiwa besar
-          Mereka adalah manusia sejati, umat pilihan kebenaran Allah.
-          Mereka adalah makhluk berbudaya
b.      Kehiudpan  setelah Pemekaran
-          Akan ada aneka pakaian
-          Akan ada alat-alat music mulai terpengaruh
-          Ciptakan lagu berbahasa Indonesia
-          Upacara-upacara berbauh modern
-          Bahasa daerah mulai hilang
c.       Kehiudpan kedepan hadir pemekaran
-          Semakin mampu dalam berbahasa Indonesia
-          Lincah dalam budaya tulis
-          Alat-alat music lebih maju
-          Budaya internetan akan meningkat
-          Pakaian modern bahkan global semakin diutamakan. Misalnya rakyat menggunakan celana pendek, kasih pang rambut.
-          Tempat-tempat keramat akan dibongkar
b.      Dampak Negative bagi “Kehidupan” Tota Mapiha
a.    Kehiudpan sebelum hadir pemekaran
-          Kelemahan manusia dalam menghayati nilai-nilai adat
-          Dihoo tedotaime ewa (ada orang tertentu yang salah menggunakan akal sehingga sering dapat menghabiskan nyawa orang lain melalui budaya).
-          Kegoo atau roh halus menguasai orang
-          Kawin paksa
-          Kaidoti kopi/togi
-          Perang klen karena masalah hak ulayat
b.      Kehiudpan  setelah pemekaran
-          Kekerabatan antar kampung akan rusak
-          Adanya perselingkuhan sosial secara structural atau struktur kejahatan sosial secara meluas
-          Kawin lepas
-          Ikut KB
-          Banyak laki-laki/prempuan yang mandul
-          Tidak mengikuti aturan adat sepertinya dawapa umi tidak sesuai ajaran adat (aturan tentang Asi, istri hamil).
-          Struktur kelunturan nilai-nilai budaya
-          Sistem kehidupan akan hancur sampai tidak bisa dipulihkan
-          Relasi vertikal dan horizontal akan putus total
-          Tida akan pernah ada harapan hidup
-          Orang Tota Mapiha tidak pernah ada budaya memiliki Allah Tritunggal sekalipun dianggap memiliki Budaya.
-          Akan terciptakan kehidupan budaya ilusi bagi keberadaan hidup Tota Mapiha
c.       Kehiudpan kedepan setelah pemekaran
-          Kehidupan berbudaya, aturan-aturan adat, Suku Bangsa akan musnah.
-          Keberadaan Tota Mapiha akan digantikan oleh keberadaan orang Luar (keberadaan orang liar/setan). Misalnya pergantian nama Tota Mapiha menjadi Kabupaten Mapiha Raya. Ini jelas-jelas sama dengan isilah Indonesia Raya bermaksud menghapus nama Tota Mapiha.
-          Tidak akan pernah ada masa depan budaya Tota Mapiha bagi keberadaan HIDUP Tota Mapiha

1.1.4.      Dampak Positif dan Negatid Pemekaran dari Perspektif Agama
Dampak negative dan positif dari perspektif agama terhadap rencana pemekaran harus memperhitungkan teologi setempat. Teologi sudah harus padat ditemukan oleh pemerintah sebelum bertindak melaksanakan misi pembangunan bagi rakyat setempat. Ada sejumlah ertanyaan mendasar yang sudah harus mau diajukan oleh pemerintah sebelum berbuat sesuatu, membuat berbagai kebijakan dan atau suatu progam pemekaran baru yakni siapa yang mau diuntungkan dan siapa yang mau dirugikan dari program pemekaran ini?. Jika pemekaran direalisasikan, maka motifatasi apa yang telah mendorong dia dan tujuangnya apa? Kenapa harusa ada-ada pemekaran terus? Dan bagaimana pemekaran itu diberikan oleh Jakarta kepada rakyat? Dalam ulasan ini, kami hanya memperlihatkan dampak negative dan positif dari pemekaran agar rakyat dapat menentukan sikap dan tindakan untuk menolak atau menerima atas rencana pemekaran tersebut. 
d.      Hal Positf  bagi Keberadaan Hidup Tota Mapiha
v  Kehidupan agama sebelum pemekaran
-          Danagoo menjadi hari istrahat
-          Ikuti aturan adat
-          Menjaga relasi alam, manusia dan Ugateme
-          Relasi dengan roh-roh leluhur dan penunggu
-          Membangun relasi antar petugas gereja secara baik
-          Tota manaa dijunjunggi
-          Misi Tetodei diutamakan
-          Deba dow (meramal hidup ke depan)
-          Bagume douw
-          Pemberian nama adat (Bagotai)
v  Kehiudpan  agama setelah pemekaran
-          Pelayanan semakin mudah
-          Akan bertambah pendeta dan pastor (petugas gereja)
v  Kehiudpan Tota Mapia ke depan dalam kehadiran pemekaran
-          Pelayanan akan semakin mudah
-          Tenaga pelayanan akan lengkap dan
-          Fasilitas pelayanan akan lengkap
-          Dengan mudah orang membaca alkitab dalam berbagai media
e.       Hal-hal negative bagi keberadaan hidup Tota Mapiha
v  Kehiudpan sebelum hadir pemekaran
-          Tidak berada akan dampat negative dalam konteks agama
-          Semuanya berada sebagai baik adanya karena berasal dari kebaikan, MAA Mapiha. Kesemua itulah biasa disebut sebagai Tota Maapiha. Contohnya, Mote Maapiha, Tigi Maapiha dan Amani Ihai Mapiha, Tebai Maapiha,  Petege Mapiha, Mana Maapiha, dimi Maapiha, Mee Maapiha, Enihaa Maapiha, Piha Maapiha (poho kebenaran) dan Tota Maapiha. dll. 
v  Kehidupan  setelah pemekaran
-          Sulit menjangkau karena letaknya berjauhan
-          Tidak mengikuti aturan adat
-          Upacara atau ritus-ritus adat tidak direalisasi
-          Danagoo menjadi hari mengisi kegiatan lain
-          Relasi alam, manusia dan Tuhan semakin luntur
-          Tidak akan menjunjung tinggi Tota manaa 
v  Kehiudpan kedepan setelah hadir pemekaran
-          Relasi antar jemaat atau umat semakin tidak nyaman
-          Hamba-hamba tuhan ikut masuk menjadi politikus
-          Iman umat seakin kendor
-          Relasi antar petugas agama terjalin kurang baik

1.1.5.      Dampak Positif dan Negatif dari Perspektif Politik dan Pemerintahan
Pemerintah menjadi pemerintah karena ada politik. Politik ini lahir karena rakyat tidak dapat mampu memikul beban hidup sehingga lahirlah politik yang memungkinkan setiap orang termasuk para penguasa untuk membentuk pemerintahan baru. Tentunya bahwa kodrat pemerintah itu adalah rakyat sendiri. Rakyat sebenarnya merupakan akar kekuasaan pemerintah bagi pemerintah untuk mengutakan kepentingan rakyat dan tidak boleh memanipulasi kepentingan rakyat demi kepentingan pemerintah sendiri saja. Jika tidak ada rakyat yang mau mengikuti kemauan pemerintah, maka secara otomatis, dia tidak punya kekuasaan. Dia mau perintah siapa sementara pada saat yang sama, dia tidak punya kekuasaan yang diberikan dari masyarakat Papua. Bagaimana dipercayai jika rakyat tidak mau mempercayainya. Mudah-mudahan, dampak positif dan positif di bawah dapat memperjelas keberadaan pemerintah dan rakyat dalam sejarah.
f.       Hal-hal Positif bagi keberadaan “HIDUP” Tota Mapiha
a.      Kehiudpan sebelum hadir pemekaran
-          Hidup permarga
-          Tonowi memimpin wilayahnya secara baik
-          Kemudian dipimpin kepala kampung
-          Mereka sangat menghargai pemimpin
-          Pemimpin dipercaya bukan melalui pemilihan
-          Orang mapiha dapat dipimpin
-          Dia menjadi seorang penengah, menegakkan kebenaran
-          Mampu mengatasi masalah dan mampu memberikan sikap hidup yang memberi hidup kepada masyarakatnya
-          Mampu menjali relasi dengan yang jauh
-          Pemimpin memiliki hartanya banyak untuk masyarakatnya
-          Pemimpin dulu- adalah pemimpin yang haus dan lapar
-          Kehidupan masyarakat hidup harmoni di mapia lama
-          Berjiwa kepemimpinan
b.      Kehiudpan  setelah pemekaran
-          Pemimpin sekarang melalui pemilihan
-          Menyelesaikan suatu permasalahan social yang terjadi dalam kampong melalui aturan pemerintah
-          Balai kampungnya disiapkkan oleh pemerintah
-          Memberi honor, pakaian dinas dan asset-aset lainnya dilengkapi oleh pemerintah kepada kepala-kepala kampong
-          Pemimpin kampong punya masa jabatan
c.       Kehiudpan kedepan hadir pemekaran
-          Pemuda dan masyarakat bisa terjun ke dunia politik
-          Membuka lapangan kerja
-          Masyarakiat bisa belajar Politik praktis\
-          Pembangunan akan/ semakin stabil sesuai visi-misi persen
-          Masyarakat bisa mempengaruhi dan dipengaruhi nilai-nilai modernisasi dalam semua aspek
g.      Hal-hal Negative
a.      Kehiudpan sebelum hadir pemekaran
-          Hanya ada Perang marga saja karena masalah tanah, dan masalah perempuan. Selain itu ada perang manusia dengan penunggu gunung tertentu yang dianggap setan. Akibatnya, hubungan vertikal dan horizontal menjadi kurang aman seperti biasa.
b.      Kehiudpan  setelah atau sekarang hadir pemekaran
-          Konflik politik untuk memenuhi perutnya
-          Saling menjatuhkan
-          Politik busuk yang selalu dipermainkan oleh para politikus untuk menguasai suatu daerah
-          Penempatan jabatan tidak sesuai dengan bidang hidupnya
-          Untuk mendapatkan jabatan dapat juga mengorbankan nyawa orang yang memihak kepada kebenaran
-          Dapat saja terindikasi mengorbankannyademi kejayaan npartainya
-          Para Pemimpin selalu berselingkuh karena uangnya yang berlimbah
-          Konflik antara partai demi kepentingn partainya
-          Kebijakannya itu akan disesuaikan dengan keinginan pemerintah
-          Kebijakan2 tidak memihak kepada rakyat
-           
c.       Kehiudpan kedepan hadir pemekaran
-          Orang benar disalahkan, orang salah dibenarkan
-          Orang kaya tetap kaya, orang miskin semakin miskin
-          Ikut-ikutan apa yang diinginkan oleh pusat
-          Pemerintah akan makmur disbanding masyarakat
-          Perampasan hak ulayat tanah terjadi
-          Eksploitasi, pendominasian orang nonpapua, tranmigrasi, tenaga inti/jabatan dikuasai orang luar
-          Tidak akan memberdayakan masyarakat lokal
-          Politik abunawas  akan diajarkan pemerintah kepada masyarakat
-          Penindasan, pembiaran atas orang asli mapiha baik fisik maupun non fisik
-          Pemerintah akan KKN
-          Pemerintah akan mendukung
-          Akan diberlakukan E-KTP tanpa terkecuali
-          Ketika kita demo menuntut hak, kita akan dicap Penhgacau, OPM, orang bodoh, orang gila, orang tidak sekolah dan lain-lain (memberikan stikma2).
-          Akan dicatat nama-nama orang yang dianggap pemerintah berlawanan pendapat dengan sebutan DPO.
-          Akan terjadi militerisasi besar-besaran di setiap kampung
h.      Dampak Positif dan Negatif dari Perspektif dari Ekonomi
Kehidupan orang Tota Mapiha sebenarnya tidak tergantung pada realitas alam Tota Mapiha yang kaya-raya, tetapi juga tergantung pada diri sendiri, sesama dan roh-roh halus. Ketergantungan hidup ini merupakan suatu sistem kehidupan mereka karena sudah ada bersama mereka. keberadaan mereka seperti ini merupakan satu integritas yang tidak dapat terpisahkan dari seluruh aspek kehidupan. Maka dalam kehidupan rakyat setempat, hidup komunitas dengan realitas yang lain menjadi inti, jiwa dan jantung hidup mereka secara terus-menerus. Tapi bagaimana dengan nasip mereka jika setelah pemerintah menghadirkan berbagai pemekaran termasuk rencana pemkaran Mapiha Raya tersebut.
i.        Hal-hal Positif bagi keberadaan Hidup Tota Mapiha
a.      Sebelum Pemekaran
-          Masyarakat menikmati kekayaan alam secukupnya
-          Hidup dengan system barter
-          Hidup berpindah pindah
-          Hidup gotong-royong
-          Saling memberikan dan diberikan demi mempertahankan kehidupan (resiprositas)
-          Kasihnya Tebal
-          Masyarakat berburuh untuk memenuhi hidup
b.      Setelah Pemekaran
-          Ada program beras raskin
-          Beasiswa
-          Akan ada BPMK, UP4B, Respek, Bandes dan raskin
-          Pengysaha akan didatangkan
-          Akan adanya tokoh-tokoh pejuang lokal untuk memperkuat posisi kedaulatan pemerintahan Indonesia di Papua tanpa memperhitungkan kedaulatan rakyat dalam hidup berpemerintahan Indonesia.
-          Pejabat daerah akan memperjuangan kepentingan nasional bukan kepentingan rakyat
-          Demi mengamankan kepentingan nasional, pemerintah bersama TNI/Polri akan menghabisi rakyat dengan membuka dunia ekonomi bagi orang pendatang, mematikan ruang gerak orang asli Tota Mapiha, mematikan fisikologi, iman, moral dan mental orang asli Tota Mapiha dan mencabut kodrat kebebas dari setiap warga setempat.
-          Para pejabat daerah akan memiliki pikiran pemerintah Jakarta dan kaum luar demi membangun surganya bagi mereka sendiri saja.
c.       Di masa depan
-          Merubah system barter akan menjadi system jual beli
-          Bisa makan kue, pisang goring, minyak (akan ada barang modern yang dikonsumsi)
j.        Hal-halk negative bagi beradaan HIDUP Tota Mapiha
a.      Sebelum Pemerintah
Masyarakat mengambil hasil dari wilayah orang lain sehingga terjadi perang marga
b.      Setelah Pemekaran
-          Karena raskin masyarakat pemalas kerja
-          Kopi, kacang, babi dan usaha orang asli yidak lagi sumber uang mereka (Akan kehilangan semangat juang)
-          Semua jenis makanan dan minuman asli dianggap tidak ada nilainya
-          Meggadaikan tanah dengan motor, mobil atau yang lain pengaruh kenikmatan sesaat
-          Tidak memberdayakan masyarakat pribumi dalam usaha sampingan dari pemerintah
-          Kehilangan peluang usaha untuk orang papua
-          Penerimaan pegawai akan akan didominasi orang luar
-          Perumahan nasional diperuntukan untuk orang papua tapi akan diberikan kepada tranmigran pemerintah akan dikendalikan oleh pemerintah pusat
-          Tidak ada tempat jual bagi orang Tota Mapiha
-          Profesi orang mapiha sebagai petani dan peternak beralifungsi karena adanya took-toko penjualan semua jenis barang yang didatangkan dari luar Papua.
-          Para pemangku kepentingan mengecap orang asli Tota Mapiha tidaktahu usaha sehingga tidak diberikan modal
-          Harga barang dagangan akan naik yang akan membuat orang Tota Mapiha tidak berdaya
c.       Masa depan wajah Tota Mapiha dalam kerangka hadirnya pemekaran baru
-          Orang Tota Mapiha tidak akan pernah kaya raya dari pemerintah Indonesia.
-          Kakak akan menjual adik demi uang dan jabatan
-          Manusia Tota Mapiha akan menjual anak-istri untuk meningkatkan hidup ekonomi bagi  orang luar (kaum liar/setan).
-          Orang luar akan berjalan hidup di atas tulang belung keberadaan manusia Tota Mapiha
-          Manusia luar (kaum liar) akan bercerita bahwa di daerah ini pernah hidup orang kulit hitam, rambut kriting tetapi sekarang tidak berada lagi karena kami sudah berhasil merebut keradaan “HIDUP dan KEHIDUPAN” mereka.
-          Pemusnahan terhadap etnis Melanesia melalui proyek pemekaran adalah sebuah realitas yang tidak pungkiri. Ini ada jalan kepastian bagi para colonial termasuk pemerintah Indonesia.
Demikianlah Materi Pemahaman dan  Sosialisasi Pemekaran Dan Semoga Bermanfaat  Bagi Segenap Anak Bangsa Tota Mapiha
                                 Simapitowa Cup Pertama di Jayapura, Bomomani Rabu 16 Juli 2014
 
                                                                        Oleh : Mahasiswa/I di Simapitowa Jayapura

Popular Posts

Papua Press Agency