Pages

Search This Blog

Showing posts with label LNG Tangguh. Show all posts
Showing posts with label LNG Tangguh. Show all posts

Tuesday, 9 September 2014

Benarkah Kemerdekaan Itu Hak Segala Bangsa?

Benarkah Kemerdekaan Itu Hak Segala Bangsa?
Bahwakemerdekaan itu adalah hak segala bangsa maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pembukaan UUD 1945 sudah menjelaskan itu dan dibacakan sejak kelas 1 SD hingga kelas 3 SMU. Jika rata-rata penduduk Indonesia hanya bersekolah hingga tamatan SD, paling tidak setiap penduduk selama 6 tahun pasti mendengar pembukaan UUD 1945 yang selalu dibacakan saat upacara. 

Hingga saat ini, Indonesia TIDAK konsisten dengan sikapnya, bahwa Papua Barat punya hak untuk merdeka dan membela kedaulatannya. Menurutnya, masyarakat Indonesia tidak bergeming dari tujuan tersebut.  

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Apa lagi realitas yang terjadi terhadap Papua menunjukkan, masih ada penindasan terhadap masyarakatnya. Sebaiknya segera diakhiri melalui upaya mendukung kemerdekaan yang selama ini diperjuangkan oleh rakyat Papua," ujar Ketua AMP Komite Kota Malang saat agenda diskusi lepas kemarin.

Di antara penduduk tersebut pasti ada pemimpin-pemimpin kita yang mendengar juga. Paling tidak mereka mendengar atau justru membacakan pembukaan UUD 1945 tersebut dalam upacara. Artinya, setiap lapisan kita sudah lebih mengenal bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Mari kita lihat di luar sana, bangsa yang sudah merdeka ketika di dalam negerinya sedang bergejolak, justru invasi militer asing datang turut menghancurkan mereka. Dan kini Suriah, Palestina dan Papua Barat nun jauh di sana juga sedang mengalami hal yang sama. Tidak usa jauh-jauh yang dekat-dekat saja yakni Papua Barat sekarang mengalami dan sedang menghadapi hal yang sama oleh invasi militer Indonesia (TNI-POLRI) dan Pemerintah RI. 

Padahal Indonesia bahkan dunia pun tahu bahwa bangsa Papua Barat telah MERDEKA Tahun 1961. Rakyat Papua Barat hanya butuh PENGAKUAN dari Indonesia melalui jalan REFERENDUM sebagai solusi demokratis bagi Bangsa Papua Barat sesuai dengan pembukaan UUD 1945 alinea pertama. 

Bukan tidak mungkin suatu saat invasi militer Indonesia menimpanya. Kalau bukti dan Saksi kalau memang indonesia yang  merancang, membuat dan menetapkan isi daripada UUD 1945 itu, kok penerapannya tidak sesuai ya ?  Kami  melihatnya miris, apakah benar kemerdekaan itu hak segala bangsa? Apakah masih relevan kalimat itu saat ini? Sebagian mungkin mengatakan iya, tapi sebagian yang lain bisa jadi mengatakan sebaliknya. Bagaimana dengan Anda?

Thursday, 15 November 2012

Tangguh’s second train shut down after fire | The Jakarta Post

Tangguh’s second train shut down after fire | The Jakarta Post

London-based oil and giant BP Plc has temporarily suspended operations of its second liquefied natural gas (LNG) train at the Tangguh plant in Teluk Bintuni, West Papua, after a fire.

The fire struck Train 2, which produces 3.8 metric tons per annum (MTPA) of LNG, at 11:30 am local time on Tuesday, BP Asia-Pacific regional president William Lin said in an email statement sent to The Jakarta Post.

“Train 2 was immediately shut down and within one hour the fire was extinguished,” Lin said in the email. There were no injuries reported.

“Investigation is ongoing to determine cause of the fire. Train 1 was not impacted by the incident,” Lin said.

The executive did not comment on estimated losses or the firm’s strategy to make up the gas shortage resulting from the idling of Train 2 as the inquiry proceeds.

Tangguh is a massive gas project in Papua that has estimated total proven gas reserves amounting to 4.4 trillion cubic feet.

The plant comprises two production units, which a combined annual output of 7.6 million tons of LNG.

Train 1 started operation in February 2009, which was followed by Train 2 in July 2009.

All of the LNG currently produced by the plant is exported to China, South Korea, Taiwan and Japan.

The government approved in principal BP’s proposal to build a third LNG train at the plant for US$12 billion during President Susilo Bambang Yudhoyono’s bilateral meeting with UK Prime Minister David Cameron in London last week.

The new train, expected to begin operation by 2018, will have an estimated production capacity of 3.8 MTPA when complete, bringing total gas production at Tangguh to 11.4 MTPA.

BP and its partners in the Tangguh plant have agreed as stipulated in the firm’s expansion plan to sell 40 percent of the LNG output from the third train to state electricity firm PT PLN for the domestic market.

Upstream oil and gas regulator BPMigas spokesman Hadi Prasetyo said separately that the regulator hoped that BP’s plan to expand operations at Tangguh would not be delayed by the fire.

“As for the gas production shortage due to the shutdown of the Train 2, they [BP] have informed us that it can still be covered by the gas reserves provided by Train 1,” Hadi told the Post in a telephone interview.

He added that BPMigas was still waiting for BP to complete their investigation over the fire, including its cause.
Enhanced by Zemanta

Popular Posts

Papua Press Agency