Pages

Search This Blog

Saturday, 30 August 2014

NKRI HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS PEMBUNUHAN MARTINUS YOHAME

 NKRI HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS PEMBUNUHAN MARTINUS YOHAME


Kunjungan kerja Negara dalam hal ini Presiden Rebuplik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono (SBY) ke Papua dalam rangga peresemian wisata Raja Ampat di Sorong dan presemian Tugu Kristus Raja di Mansinam Manokwari pada tanggal 20-25 Agustus 2014 di Papua telah membunuh Aktivis Papua Merdeka yaitu Ketua komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Sorong Raja kepala burung Martinus Yohame.
Penculikan dan Pembunuhan terhadap ketua KNPB wilayah Sorong dilakukan untuk mengamankan perjalanan pimpinan Nekara klonial NKRI di Papua, Sebab sebelum kujungan Presiden rebuplik Indonesia (SBY) ke Sorong dan Manokwari Ketua KNPB wilayah sorong Almarhum Martinus Yohame dan Parlemen Rakyat Daerah (PRD) wilayah Sorong telah mengelurkan stekmen dalam jumpa press dengan menghadirkan sejumlah Wartawan yang berada di wilayah sorong kota pada tanggal 19 Agustus 2014 di depan walikota sorong pada pukul 15.00 WPB .

Dalam konfrensi press dengan wartawan itu ketua KNPB wilayah Sorong Raja Martinus Yohame (almarhum) dengan tegas menolak kedatangan SBY di Papua. Karna peresmian Wisata di raja Ampat waisai itu tidak mengutungkan rakyat pribumi yang berdomisili di wilayah setempat namun hanya mengutungkan devisa negara tanpa memperhatikan rakyat kecil di wilayah tersebut juga pada umumnya tidak mengutungkan orang Asli Papua.

Sejumlah kekayaan alam yang di kelola oleh Negara di Papua Barat seperti PT.FI di Timika dan minyak di sorong selama sekian tahun beroperasi di Papua namun rakyat tetap miskin diatas kekayaan alamnya sendiri. Maka Ketua KNPB wilayah sorong Martinus Yohame Menolak kedatangan SBY dalam peresmian Wisata di raja ampat yang akan mengutugnkan negara tersebut.

Dengan demikian untuk mengamankan atau mensuksekan kegiatan presemian Taman Wisata Raja Ampat dan juga persemian Tugu Kristus Raja di Manokari Ketua KNPB wilayah Sorong MARTINUS YOHAME harus diculik dan dibunuh secara sadis oleh Negara untuk mengamankan kepentingan Negara di Papua Barat. Kerena Negara menilai siapa pun yang menghambat kepentingan dan kekuasaan negara setiap aktifis papua yang lantang bersuara menolak semua kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil diangkap musuh Negara dan penghambat maka Martinus Yohame ketua KNPB wilayah Sorong menjadi korban penculikan dan Pembunuhan oleh Negar Kesatuan Republik Indonesia NKRI sebelum SBY berkujung ke Papua.

Berdasarkan hal tersebut diatas kami KNPB menilai penculikan dan Pembunuhan Ketua KNPB wilayah Sorong Martinus Yohame Merupakan korban kejahatan Negara sama seperti penculikan dan pembunuhan tokoh pejuang lainnya seperti THEYS H. ELUAY, KELY KWALIK, MAKO TABUNI,TITUS MURIB HUBERTUS MABEL dan sejumlah pejuang lain yang menjadi korban kekerasan negara.

Peryantaan Polda Papua dan Pangdam mengatakan melalui media cetak yaitu Suluh Papua edisi hari jumat 29 Agustus 2014 bahwa, polisi sulit percaya terhadap Penemuan Mayat di pulau Dom sorong. Karena keluararga menolak otopsi maka mayat yang ditemukan tersebut belum bisa pastikan itu jenaza Martinus Yohame atau tidak,,,? 

Hal ini kami menilai bukan baru ketiga aktivis papua merdeka dibunuh dan bahasa seperti ini selalu diungkapkan Oleh Negara terhadap Orang Papua dan menjadi lagu lama. Karena beberapa hal menjadi pertanyaan bagi kami KNPB.


Pertama Siapa menemukan mayat Martinus Yohame di pulau dom pada tanggal 26 Aggustus 2014, ? menurust media yaitu Tabloid Jubi edisi 26 Agutustus megatakan bahwa Mayat Martinus Yohame di Temukan oleh seorang nelayan pada pukul 07 di pulau dom namun nama nelayan itu tidak disebutkan nama nelayannya jadi nelayan menemukan mayat itu siapa ?

Kedua siapa yang bawa Mayat Martinus Yohame ke rumah sakit Umum kota Sorong apakah nelayan itu yang bawa ke rumagh sakit ?

Ketiga menurut tabloid jubi mayat Maritinus Yohame ditemukan di pulau dom jam 07 tetapi kenapa keluarga dan Pengurus KNPB wilayah sorong temukan mayat pada pukul 15.00 WPB, kenapa sejak ditemukan jam 7 tidak diinformasikan kepada keluarga dan KNPB ?


Keempat menurut Menurut hasil Visum yang dilakukan tim identifikasi rumah sakit umum Kota Sorong , ditemukan sebuah luka tembak di dada sebelah kiri, wajah korban juga hancur oleh pukulan benda keras. “ Kami temukan ada luka tembakan di dada kiri, dia punya muka hancur “ ungkap Yori petugas RSUD Sorong. Kedua kaki dan dan tangan korban juga dalam posisi terikat, diduga jasadnya akan ditenggelamkan ke Laut.

Pihak rumah sakit tidak perna sampaikan kepada keluarga dan KNPB tentang siapa yang menemukan mayat Martinus Yohame dan siapa yang membawa mayat Martinus Yohame ke rumah sakit Umumum kota sorong ?

Yang Kelima, Almarhum Martinus Yohame diculik sebelum SBY kujungan datang ke Papua lebih khusus ke Sorong, dan selama 5 hari belum ditemukan, kemudian setelah SBY melakukan kujuangan balik ke Jakarta mayat almarhum Martinus Yohame ditemukan ?

Yang Keenam Martinus Yohame bukan orang stress bukan orang gila dia bukan bunuh diri dan bukan juga dia mengalami kecelakaan tapi di dibunuh secara sitematis oleh orang terlati..?


Berdasarkan hal tersebut diatas kami menilai Penculikan dan Ketua KNPB wilayah Sorong Martinus Yohame dilakukan oleh orang-orang yang professional dan terlati, dan jejak atau rencana penculikan dan pembunuhan Ketua KNPB dilakukan secara rapi terstrutur dan diatur sedemikian rupah supaya jejak tidak bisa diketahui oleh public dan KNPB serta Keluarga.

Oleh karena itu apa yang dikatakan oleh polda dan pangdam merupakan lagu lama yang membagun opini yang membigungkan semua orang. Kami tau bahwa Pencuri tidak pernah mengakui bahwa, dia pencurinya demikian juga pembunuh tidak pernah mengakui bahwa dia adalah pembunuh, apa lagi penjajah tidak akan pernah mengaukui terhadap indentitas dan kebenarn orang lain.


Oleh Karena itu kami bandan Pengurus Pusat Komite Nasional Papua Barat (BPP-KNPB ) menyampaikan sikap sebagai Berikut:
1. Presiden Rebuplik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono (SBY) segera bertanggung jawab atas kejahatan Negara terhadap penculikan dan pembunuhan MARTINUS YOHAME ketua KNPB wilayah Sorong.

2. Pangdam Cendrwasih Polda Papua , Polres dan Dandim Kota Sorong segera mengungkap pelaku Penculikan dan Pembunuhan terhadap MARTINUS YOHAME ketua KNPB Sorong Raja.

3. Komnas HAM RI dan Komnas Perwakilan Papua dan Lembaga kemanusia yang Independen Segera melakukan penyelidikan terhadap Penculikan dan Pembunuhan Ketua KNPB wilayah Sorong Martinus Yohame.

4. penculikan dan Pembunuhan terhadap Martinus Yohame Merupakan kejahatan Negara oleh sebab itu Negara bertanggung jawab dan mengadili para penjahat kemanusian di Papua Barat.

5. Gubernur Provinsi Papua, provisi Papua Barat Pangdam dan Polda Papua Aktor Pembunuhan atau pemusnahan Ras ( Genosida ) di Papua Barat.

Demikian pernyatan sikap kami terhadap penculikan dan pembunuhan terhadap ketua KNPB wilayah sorong Martinus Yohame .

Numbay, 28 Agustus 2014
Badan Pengurus Pusat
KOMITE NASIONAL PAPUA BARAT ( BPP-KNPB)

VICTOR F. YEIMO ONES N. SUHUNIAP
Ketua Umum Sekertaris Umum

Monday, 25 August 2014

Ksistensi Budaya Mahasiswa Papua se-Jawa dan Bali


Penulis : Tiborius Adii 
                      
Pencerita, Alfred Viktor Bobii. Foto: Dok. Pribadi


Bangga sekali jika budaya Papua dipentaskan pada peristiwa perayaan Natal dan Tahun baru setiap tahun di Kota Study di luar Papua (Surabaya, Malang, Semarang, Bali Yogyakarta, Bandung, Bogor, dan Jakarta). Berikut ini makna dan eksistensi budaya Papua serta solidaritas pemerintah, orang tua, yang diceritakan oleh Alfred Viktor Bobii, pelajar SMP Santa Agnes Surabaya, atas pengalaman dan pengamatan perayaan natal, tahun baru, sambil menunjukkan hasil potretannya di kota studi Bandung (26 Desember 2013 s/d 1 Januari 2014).

*** 


Gagasan perayaan Natal dan Tahun baru bersama mahasiswa Papua di beberapa kota study di luar Papua terkesan memiliki makna tersendiri dalam kerukunan para mahasiswa dan pelajar di sana.  Sungguh mengugah hatiku kalau menikmati sebuah acara yang dikemas dalam khas budaya di tanah rantauan.  

Para senior terdahulu dekade 1980-an sudah memprediksi pentingnya acara kebersamaan tersebut. Melalui kegiatan ini menyatukan para mahasiswa dan pelajar yang sedang menekuni berbagai displin ilmu. Momentum seperti ini dicetuskan oleh para senior angkatan tahun 1980-an bahkan sebelumnya, entah tahun berapa saya belum tahu persis. 

Haru dan tangis, rasanya ingin pulang (ingat) kembali bapak dan mama, sanak saudara di kampung ketika para mahasiswa dan pelajar mementaskan sejumlah atraksi di panggung dengan mengenakan busana adat sejumlah suku yang ada di Tanah Papua. Pasti senior-senior sudah pulang selesai study akan ingat kembali setelah artikel ini dibaca.  

Drama kelahiran Yesus Kristus mengawali perayaan Natal dan Tahun baru setiap tahun. Partisipasi para mahasiswa untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut terlihat cukup antusias. 

Kebersamaan sebagai mahasiswa, pelajar di rantauan terlihat sejak terbentuknya panitia penyelenggarah hingga selesai. Bahkan dalam tempat pelaksanaan ditentukan awal tahun usai perayaan natal dan tahun baru dilaksanakan. Maka atas kesepakatan bersama menentukan  tempat/kota study mana yang ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan, sekaligus mempercayakan panitia pelaksanaan tahun berikutnya. Semisal, perayaan Natal 2013 dan memasuki tahun baru 2014 dipusatkan di kota studi Bandung, dan tahun 2014 dipusatkan di kota Studi Semarang. 

Dalam momentum yang bernuansa budaya ini terlihat keakraban yang cukup tinggi. Pasalnya memperlihatkan drama kelahiran Yesus Juruslamat ala budaya-budaya di Papua. Bergantian tak terkecuali kota study menampilkan drama yang sudah disiapkan sebelumnya dari masing-masing kota studi.  

Tidak hanya drama, tetapi juga beberapa mata lomba diperlombakan serta seminarkan materi-materi pembinaan spiritual (renungan Alkitab), materi kepemimpinan, dibawakan oleh sejumlah narasumber  dari berbagai kalangan akademisi, kalangan gereja yang diundang panitia.



Nilai Eksistensi Budaya Papua di Mata Generasi Muda 

Sudah menjadi buah bibir di berbagai kalangan, menceritakan pentingnya pelestarian budaya. Orang tua selalu menasehati pentingnya pelestarian budaya. Nilai budaya perlu ditempatkan pada urutan teratas. Bahkan untuk menggali kembali budaya yang hilang berbagai pertemuan selalu mempersoalkan/mengangkat nilai-nilai. 

Menanggapi pentingnya budaya kini pihak gereja serius berbicara tentang budaya. Hal itu dilakukan dengan tujuan mengembalikan tatanan kehidupan manusia Papua pada nilai-nilai adat masa lalu. 

Berangkat dari pemahaman di atas, para mahasiswa terus eksis mengembangkan budaya. Tidak serta merta karena perayaan natal dan tahun baru, tetapi inti pelaksanaan dari penampilan drama-drama nuansa budaya mengangkat tradisi (adat) merupakan warisan leluhur. Hal itu terlihat ketika seluruh mahasiswa dan mahasiswi mengenakan busana adat (Koteka, Moge). Tak perduli dengan kondisi kota besar.  

Di tengah-tengah modernisasi para mahasiswa-mahasiswi berani mengangkat eksistensinya sebagai budaya yang adalah dasar pijakan hidup menuju masa depan yang cerah. 

Sebagai kepedulian terhadap adatnya, hampir semua memiliki busana adat (Koteka, Moge, Ukaa, Mapega), jika datang berlibur di Papua (masing-masing kampung), ataupun hendak ke Jawa melanjutkan studi selalu mereka kantongi sebagai persiapan jika ada kegiatan-kegaiatan adat. Suatu hal yang patut dijempol kepada mahasiswa-mahasiswi di luar Papua mereka menyanyikan lagu-lagu adat sambil memperagakan drama (wani, gowai, ugaa, tupe, dan lain-lain), menandakan bahwa memahami pentingnya memuji Tuhan melalui agama budaya sesuai ajaran Totamana, Toutomana, Toutamana, dan Touyemana. 


Solidaritas Pemerintah dan Orang Tua

Salut kepada pemerintah dan orang tua di kampung halaman, bahwa keprihatinan akan pelaksanaan perayaan natal sangat serius. Bantuan pemerintah sering dijawab sekalipun tidak sesuai perincian yang diajukan melalui proposal oleh panitia. Hal itu menunjukkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota hendak bersolider untuk mengembangkan tradisi keagamaan di masing-masing kota studi di Jawa-Bali.  

Solidaritas orang tua dalam keterlibatan perayaan natal di pulau Jawa lebih berharga. Soalnya, menurut tradisi dalam kalangan suku-suku di Papua, jika Natal tiba pastilah setiap keluarga mengurbankan hewan piaraannya (babi, sapi) sebagai tanda persembahan atas kelahiran Sang Juru Selamat.  

Para orang tua merasa tidak lengkap jika dari anggota keluarga yang sedang studi tidak menikmati perayaan Natal bersama sanak saudara di kampung halamannya. Sebagai bukti solidernya orang tua selalu mengirim dana (uang natal) dari hasil usaha persiapan natal, berjualan kayu, pagar, hasil pertanian, peternakan, perikanan mereka,  disertai dengan iringan doa agar anak-anak mereka selalu dalam lindungan Tuhan dengan harapan kembali ke Papua setelah menyelesaikan studinya. 

Sekalipun saya sudah pindah di SMP ST. Anthonius Nabire, tetapi saya harap kakak-kakak terus  meningkatkan hal itu karena sangat penting. 


Ditulis oleh Adii Tiborius berdasarkan cerita Alfred Viktor Bobii. 

Popular Posts

Papua Press Agency